Pulau Tidung merupakan pulau terbesar yang ada di kabupaten kepulauan seribu Jakarta. Keindahannya semakin populer yang terbaru seiring dengan banyaknya agen wisata yang menunjukkan paket liburan dengan budget cukup terjangkau ke pulau yg populer dengan jembatan cinta-nya ini. Selain jembatan cinta yang menghubungkan pulau tidung besar menggunakan pulau tidung kecil, pesona lain yg sanggup menarik ratusan sampai ribuan wisatawan setiap minggunya ini adalah pantai pasir putih perawan yg terdapat pada pulau tidung kecil. Pasirnya yang putih halus sebagai batas eksklusif menggunakan beningnya laut jawa.
Berbekal keterangan dari beberapa teman yang telah menjelajahi indahnya pulau tidung serta contact person pak Amsir, orang yang kerap kali membantu wisatawan dalam urusan penginapan, penyewaan kapal & lain-lain, akhirnya saya tetapkan buat membuat tawaran wisata ke pulau tersebut. Dengan perhitungan budget 260.000/orang minimal 10 orang (telah termasuk kapal muara angke-pulau tidung PP, makan 3x, alat snorkeling, penginapan, sewa sepeda, sewa kapal snorkeling dan guide), saya mulai memasarkannya pada facebook,twitter juga blog. Tujuannya hanya satu, supaya biaya bisa ditekan. Karena umumnya kapal dan penginapan akan lebih murah bila kita menyewanya beramai-ramai agar cost bisa di bagi beserta.
Menjelang hari H embarkasi, akhirnya hanya 19 orang yang ikut berdasarkan 24 orang yang mendaftar. Ke-lima orang tadi mengundurkan diri dengan alasan cuaca tidak baik dan ancaman gunung anak Krakatau, padahal letaknya sangat jauh dari kepulauan seribu. Meeting point sudah ditentukan pada pom bensin muara angke, dan 3 jam lalu kami sudah hingga pada pulau tidung. Pulau yang tengah jadi butir bibir menjadi tujuan baru wisata Jakarta.
Menginjak kaki ke Pulau Tidung adalah virtual aku kurang lebih 4 tahun yang lalu. Saat itu berlibur ke Tidung sedang hits hits-nya. Saya sempat menahan resign lantaran mendengar liputan kabur bahwa outing tempat kerja akan berkiprah ke sana. Sampai akhirnya saya resign, outing ke Pulau Tidung tidak juga ter-realisasi. 😦
Bulan kedua sehabis hijrah ke Jakarta, saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki ke Pulau Harapan, bulan berikutnya Karimun Jawa, dilanjutkan lagi bulan berikutnya saya menginjakkan kaki ke Pulau Pari. Saya mulai kehilangan selera untuk menginjakkan kaki pada Pulau Tidung sehabis mendengar cerita para guide pada Pulau Harapan dan Pulau Pari kalo Pulau Tidung telah tidak nyaman buat didatangi. Setelah mulai lupa pada impian menginjakkan Tidung, mantan tempat kerja saya baru outing kesana. Huh.
Sampai akhirnya di pertengahan 2014, sebuah email masuk dengan subject voting outing 2014. Anyer & Pulau Tidung. Saya yg sudah pernah ke Anyer, refleks menentukan Pulau Tidung dan berharap vote terbanyak ke Pulau Tidung. Kenapa Tidung? Karena saya telah pernah ke Pulau Pari dan Pulau Harapan 😛 selain itu, karena lebih deket berdasarkan Muara Angke.
Awalnya, saya diminta buat mencari liputan buat eo yang akan kami gunakan buat outing kali ini. Dengan pertimbangan ini merupakan family gathering, aku nir merekomendasi eo eo kelas homestay & harga murmer. Ga apalah relatif mahal, yang penting nyaman, & kami seluruh menikmati.
Maka, aku merogoh paket pada tidungnirwana menggunakan memakai kapal middle group. Engga menyedihkan naik kapal kayu, nir pula sok gegayaan naik kapal dari marina. Pilihan jatuh pada kapal zahro. Duduk, ber-AC dan nyaman.
Temen temen sempet kaget waktu melintasi kapal kayu yang sudah dipenuhi orang orang ngampar. Mereka mencemaskan diri akan bernasib sama. Haha.
IMG_2515-a
Not Bad, kan?
Dilengkapi TV, Sound System.
Dilengkapi TV, Sound System.
AC, Kipas Angin dan Colokan. #FakirColokan Bahagia deh :P
AC, Kipas Angin dan Colokan. #FakirColokan Bahagia deh 😛
Untuk penginepannya juga, semi hotel. Punya kamar mandi masing masing kamar yg max 4 orang. Ber-AC. Memiliki pantai private, watersport private, ruang buat karaokean, area makan misalnya kondangan. Ihihihi.
Nirwana Cottage
Nirwana Cottage
Kasur pada ruang tamu. :)
Kasur di ruang tamu. 🙂
Kasur didalam kamar :)
Kasur didalam kamar 🙂
Kamar Mandinya :)
Kamar Mandinya 🙂
Area Makan. Kalo pas kebetulan lagu yg mengalun lagu dangdut, berasa kondangan :)))
Area Makan. Kalo pas kebetulan lagu yg mengalun lagu dangdut, berasa kondangan :)))
Ruang buat Karaokii
Ruang untuk Karaokii
Private Beach. Meski mini , anak anak puas banget nyemplung disini.
Private Beach. Meski kecil, anak anak puas banget nyemplung disini.
Acara pertama setelah menaruh barang, makan siang, & bobok bobok lucuk menunggu pukul 01.00 PM. Seperti rundown dalam umumnya, kami memulai menggunakan Snorkeling! O/
Are you ready?
Are you ready?
Ada yg tidak sama menurut trip saya sebelumnya, lantaran kali ini saya bersama bocah bocah yg kebanyakan baru pertama kali melakukan aktivitas ini. Ada yg nangis kejer gegara matanya pedih terkena air laut. Ada si (layak) kembar Kiki dan Sasa yang berebutan buat meminta perhatian ayahnya supaya diajak nyebur ke Laut.
Byur!
Byur!
Saya sempat memegangi faris, anaknya pak bos untuk aku ajak main ke tengah laut. Ada percakapan seperti ini;
Me : “Kamu kenapa tersebut nangis gitu?”
Him : “Ikannya poly. Ngegigit.”
Me : “Wah, kamu pada gigit?”
Him : “Iya.” *jarak 1 mnt* “Tidak deng, saya berbohong.” muahhaha.
Anak kecil ya, berbohongnya bertahan hanya semenit. 😛
Dari spot snorkeling (yg sayangnya) cuma sekali, kami diantar menuju Pulau Payung. Pulau tidak berpenghuni, berdanau indah sekali.
Foto Keluarga di Pintu Masuk.
Foto Keluarga di Pintu Masuk.
Ini kece! Pasir putih dan air berwarna hijau biru anggun.
Ini kece! Pasir putih dan air berwarna hijau biru cantik.
Dangerously Beautiful Indonesia
Dangerously Beautiful Indonesia
Berbaur berbagai umur.
Berbaur aneka macam umur.
God, ini keren.
God, ini keren.
Dalam rangka mengejar sholat Ashar & mengejar Sunset, kami berkecimpung kembali ke penginepan. Ya, namanya pula keluarga dalam bawa anak. Sebagian akbar segera mandi dan bobok bobok lucuk. Kami yg belia belia memilih buat melanjutkan sesepedahan ke spot Sunset.
Catch the sun!
Catch the sun!
Agenda malem, bekerjasama bocah bocah pada kelelahan dan tetapkan buat segera tidur, kami para dewasa memilih buat duduk karaokean, menikmati pantai & langit serta babakaran.
Nyam!
Nyam!
Kenyang & lelah mengantarkan kami buat terlelap nyenyak. Dan bangun sang bunyi mas mas guide yang ngetokin kamar sambil bilang “sunrise.. Sunrise..”
Sesepedahan menuju spot paling terkenal disepanjang tidung raya, Jembatan Cinta.
Yang populer dari Tidung
yg terkenal dari Tidung
No Pict HOAX. Haha :'D
No Pict HOAX. Haha :’D
Acara terakhir sebelum kembali ke Jakarta, watersport! Yey yey. Sekali lagi, tidungnirwana ini menyediakan fasilitas watersportnya sendiri. Jadi kita ga perlu ngantri panjang di Jembatan Cinta untuk mencoba aneka macam sarana ini.
Sofaboat.
Sofaboat.
Well anyway, bocah bocah ini seneng banget pas pertama naik sofaboat ini. Tampak akan menyenangkan mungkin, ya. Namun sepanjang perjalanannya, ibu berdasarkan kesemua anak ini cemas sekali. Dan benar saja..
.. After.
.. After.
3 diantaranya menangis kejer waktu pulang ke pinggir, bahkan keliru satu anak diantarnya sempat ‘terbang’ & terhempas ke samudera luas. Melihat salah satu temannya yg ‘terbang’ menciptakan anak anak yang lain shock.
Setelah itu, orang tua menurut anak anak ini mencoba sendiri permainan sofaboat ini. Dan testimoni yang keluar emang angker. Bagi orang dewasa saja ini seram, ya apalagi bagi anak anak.
Banana Boat
Banana Boat
Permainan lainnya ya Banana Boat & Donut Boat. Per wahana dikenakan tarif diluar paket sebesar Rp. 30.000,-/sarana. Worth it lah, apalagi private cuma kita kita aja 🙂
Dengan berakhirnya bermain watersport, maka berakhir pulalah Family Gathering Divisi Corporate Human Resource pada Pulau Tidung. Saatnya pulang pada rutinitas di ibukota.
Menuju penginepan dan kembali ke dermaga, dengan bangga mengumumkan, kami memakai armada ini;
Bentor. Becak Motor o/
Bentor. Becak Motor o/
And so, in the end, aku yang pernah bilang, “ah ga mau ke tidung, ah. Katanya rame banget. Penuh dan udah ga oke” merogoh pesan yang tersirat bahwa, seluruh ini bukan masalah destinasi tempat, akan tetapi momen didalamnya dan beserta siapa kita menghabiskan waktunya.
We are so happy. Yes, happy.
Kalau engkau ? Masih ragu buat menyambangi pulau pari? Penginapan Pulau Tidung Dekat Jembatan Cinta
Berbekal keterangan dari beberapa teman yang telah menjelajahi indahnya pulau tidung serta contact person pak Amsir, orang yang kerap kali membantu wisatawan dalam urusan penginapan, penyewaan kapal & lain-lain, akhirnya saya tetapkan buat membuat tawaran wisata ke pulau tersebut. Dengan perhitungan budget 260.000/orang minimal 10 orang (telah termasuk kapal muara angke-pulau tidung PP, makan 3x, alat snorkeling, penginapan, sewa sepeda, sewa kapal snorkeling dan guide), saya mulai memasarkannya pada facebook,twitter juga blog. Tujuannya hanya satu, supaya biaya bisa ditekan. Karena umumnya kapal dan penginapan akan lebih murah bila kita menyewanya beramai-ramai agar cost bisa di bagi beserta.
Menjelang hari H embarkasi, akhirnya hanya 19 orang yang ikut berdasarkan 24 orang yang mendaftar. Ke-lima orang tadi mengundurkan diri dengan alasan cuaca tidak baik dan ancaman gunung anak Krakatau, padahal letaknya sangat jauh dari kepulauan seribu. Meeting point sudah ditentukan pada pom bensin muara angke, dan 3 jam lalu kami sudah hingga pada pulau tidung. Pulau yang tengah jadi butir bibir menjadi tujuan baru wisata Jakarta.
Menginjak kaki ke Pulau Tidung adalah virtual aku kurang lebih 4 tahun yang lalu. Saat itu berlibur ke Tidung sedang hits hits-nya. Saya sempat menahan resign lantaran mendengar liputan kabur bahwa outing tempat kerja akan berkiprah ke sana. Sampai akhirnya saya resign, outing ke Pulau Tidung tidak juga ter-realisasi. 😦
Bulan kedua sehabis hijrah ke Jakarta, saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki ke Pulau Harapan, bulan berikutnya Karimun Jawa, dilanjutkan lagi bulan berikutnya saya menginjakkan kaki ke Pulau Pari. Saya mulai kehilangan selera untuk menginjakkan kaki pada Pulau Tidung sehabis mendengar cerita para guide pada Pulau Harapan dan Pulau Pari kalo Pulau Tidung telah tidak nyaman buat didatangi. Setelah mulai lupa pada impian menginjakkan Tidung, mantan tempat kerja saya baru outing kesana. Huh.
Sampai akhirnya di pertengahan 2014, sebuah email masuk dengan subject voting outing 2014. Anyer & Pulau Tidung. Saya yg sudah pernah ke Anyer, refleks menentukan Pulau Tidung dan berharap vote terbanyak ke Pulau Tidung. Kenapa Tidung? Karena saya telah pernah ke Pulau Pari dan Pulau Harapan 😛 selain itu, karena lebih deket berdasarkan Muara Angke.
Awalnya, saya diminta buat mencari liputan buat eo yang akan kami gunakan buat outing kali ini. Dengan pertimbangan ini merupakan family gathering, aku nir merekomendasi eo eo kelas homestay & harga murmer. Ga apalah relatif mahal, yang penting nyaman, & kami seluruh menikmati.
Maka, aku merogoh paket pada tidungnirwana menggunakan memakai kapal middle group. Engga menyedihkan naik kapal kayu, nir pula sok gegayaan naik kapal dari marina. Pilihan jatuh pada kapal zahro. Duduk, ber-AC dan nyaman.
Temen temen sempet kaget waktu melintasi kapal kayu yang sudah dipenuhi orang orang ngampar. Mereka mencemaskan diri akan bernasib sama. Haha.
IMG_2515-a
Not Bad, kan?
Dilengkapi TV, Sound System.
Dilengkapi TV, Sound System.
AC, Kipas Angin dan Colokan. #FakirColokan Bahagia deh :P
AC, Kipas Angin dan Colokan. #FakirColokan Bahagia deh 😛
Untuk penginepannya juga, semi hotel. Punya kamar mandi masing masing kamar yg max 4 orang. Ber-AC. Memiliki pantai private, watersport private, ruang buat karaokean, area makan misalnya kondangan. Ihihihi.
Nirwana Cottage
Nirwana Cottage
Kasur pada ruang tamu. :)
Kasur di ruang tamu. 🙂
Kasur didalam kamar :)
Kasur didalam kamar 🙂
Kamar Mandinya :)
Kamar Mandinya 🙂
Area Makan. Kalo pas kebetulan lagu yg mengalun lagu dangdut, berasa kondangan :)))
Area Makan. Kalo pas kebetulan lagu yg mengalun lagu dangdut, berasa kondangan :)))
Ruang buat Karaokii
Ruang untuk Karaokii
Private Beach. Meski mini , anak anak puas banget nyemplung disini.
Private Beach. Meski kecil, anak anak puas banget nyemplung disini.
Acara pertama setelah menaruh barang, makan siang, & bobok bobok lucuk menunggu pukul 01.00 PM. Seperti rundown dalam umumnya, kami memulai menggunakan Snorkeling! O/
Are you ready?
Are you ready?
Ada yg tidak sama menurut trip saya sebelumnya, lantaran kali ini saya bersama bocah bocah yg kebanyakan baru pertama kali melakukan aktivitas ini. Ada yg nangis kejer gegara matanya pedih terkena air laut. Ada si (layak) kembar Kiki dan Sasa yang berebutan buat meminta perhatian ayahnya supaya diajak nyebur ke Laut.
Byur!
Byur!
Saya sempat memegangi faris, anaknya pak bos untuk aku ajak main ke tengah laut. Ada percakapan seperti ini;
Me : “Kamu kenapa tersebut nangis gitu?”
Him : “Ikannya poly. Ngegigit.”
Me : “Wah, kamu pada gigit?”
Him : “Iya.” *jarak 1 mnt* “Tidak deng, saya berbohong.” muahhaha.
Anak kecil ya, berbohongnya bertahan hanya semenit. 😛
Dari spot snorkeling (yg sayangnya) cuma sekali, kami diantar menuju Pulau Payung. Pulau tidak berpenghuni, berdanau indah sekali.
Foto Keluarga di Pintu Masuk.
Foto Keluarga di Pintu Masuk.
Ini kece! Pasir putih dan air berwarna hijau biru anggun.
Ini kece! Pasir putih dan air berwarna hijau biru cantik.
Dangerously Beautiful Indonesia
Dangerously Beautiful Indonesia
Berbaur berbagai umur.
Berbaur aneka macam umur.
God, ini keren.
God, ini keren.
Dalam rangka mengejar sholat Ashar & mengejar Sunset, kami berkecimpung kembali ke penginepan. Ya, namanya pula keluarga dalam bawa anak. Sebagian akbar segera mandi dan bobok bobok lucuk. Kami yg belia belia memilih buat melanjutkan sesepedahan ke spot Sunset.
Catch the sun!
Catch the sun!
Agenda malem, bekerjasama bocah bocah pada kelelahan dan tetapkan buat segera tidur, kami para dewasa memilih buat duduk karaokean, menikmati pantai & langit serta babakaran.
Nyam!
Nyam!
Kenyang & lelah mengantarkan kami buat terlelap nyenyak. Dan bangun sang bunyi mas mas guide yang ngetokin kamar sambil bilang “sunrise.. Sunrise..”
Sesepedahan menuju spot paling terkenal disepanjang tidung raya, Jembatan Cinta.
Yang populer dari Tidung
yg terkenal dari Tidung
No Pict HOAX. Haha :'D
No Pict HOAX. Haha :’D
Acara terakhir sebelum kembali ke Jakarta, watersport! Yey yey. Sekali lagi, tidungnirwana ini menyediakan fasilitas watersportnya sendiri. Jadi kita ga perlu ngantri panjang di Jembatan Cinta untuk mencoba aneka macam sarana ini.
Sofaboat.
Sofaboat.
Well anyway, bocah bocah ini seneng banget pas pertama naik sofaboat ini. Tampak akan menyenangkan mungkin, ya. Namun sepanjang perjalanannya, ibu berdasarkan kesemua anak ini cemas sekali. Dan benar saja..
.. After.
.. After.
3 diantaranya menangis kejer waktu pulang ke pinggir, bahkan keliru satu anak diantarnya sempat ‘terbang’ & terhempas ke samudera luas. Melihat salah satu temannya yg ‘terbang’ menciptakan anak anak yang lain shock.
Setelah itu, orang tua menurut anak anak ini mencoba sendiri permainan sofaboat ini. Dan testimoni yang keluar emang angker. Bagi orang dewasa saja ini seram, ya apalagi bagi anak anak.
Banana Boat
Banana Boat
Permainan lainnya ya Banana Boat & Donut Boat. Per wahana dikenakan tarif diluar paket sebesar Rp. 30.000,-/sarana. Worth it lah, apalagi private cuma kita kita aja 🙂
Dengan berakhirnya bermain watersport, maka berakhir pulalah Family Gathering Divisi Corporate Human Resource pada Pulau Tidung. Saatnya pulang pada rutinitas di ibukota.
Menuju penginepan dan kembali ke dermaga, dengan bangga mengumumkan, kami memakai armada ini;
Bentor. Becak Motor o/
Bentor. Becak Motor o/
And so, in the end, aku yang pernah bilang, “ah ga mau ke tidung, ah. Katanya rame banget. Penuh dan udah ga oke” merogoh pesan yang tersirat bahwa, seluruh ini bukan masalah destinasi tempat, akan tetapi momen didalamnya dan beserta siapa kita menghabiskan waktunya.
We are so happy. Yes, happy.
Kalau engkau ? Masih ragu buat menyambangi pulau pari? Penginapan Pulau Tidung Dekat Jembatan Cinta


Komentar
Posting Komentar