Mbah Ma’shum Lasem, bisa mendengar keluhan Ahli Neraka. Kamu wajib sering belajar jatah mendapatkan banyak pengetahuan. Disini mau berbagi kepada kalian yang suka menggunakan kabar terkini, semoga bisa menjadikan kamu mendapatkan pilihan terpilih internal membaca share terbaru.
MusliModerat.com - Mbah Ma’shum Lasem, Jawa Tengah, seimbang ulama besar yang tindakannya sering sulit dicerna nalar awam. Setelah peristiwanya, barulah orang mengerti apa sesungguhnya yang terjadi.
Diperkirakan, Mbah Ma’shum lahir pada tahun 1868. Dia seimbang buah hati bungsu pasangan Ahmad atau Qosimah. Oleh orangtuanya ia kemudian diserahkan kepada Kiai Nawawi, Jepara, jatah mempelajari ilmu agama, karena sejak kecil diatelah ditinggal wafat oleh ibunya. Dari Kiai Nawai ia mendapat pelajaran dasar ilmu perangkat (nahwu) yang diambil dari kitab Jurumiyyah atau Imrithi.
Pengembaraannya mencari ilmu kagak sebatas di Lasem, melainkan sampai ke Jepara, Kajen (Kiai Abdullah, Kiai Abdul Salam, atau Kiai Siroj), Kudus (Kiai Ma’shum atau Kiai Syarofudin), Sarang Rembang (Kiai Umar Harun), Solo (Kiai Idris), Termas (Kiai Dimyati), Semarang (Kiai Ridhwan), Jombang (Kiai Hasyim Asy’ari), Bangkalan (Kiai Kholil), sampai Makkah (Kiai Mahfudz At-Turmusi), atau kota-kota lain.
Suatu saat, di Semarang, ia tertidur atau bermimpi bersua Nabi Muhammad SAW. Ketika di Bojonegoro, ia kagak hanya bermimpi, melainkan, jarak tertidur atau terjaga, ia bersua menggunakan Nabi, yang memberikan ungkapan La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, yang artinya “Tidak ada kebaikan (yang makin utama) daripada menyebarkan ilmu”.
Di rumahnya sendiri, ia bermimpi kembali. Dalam mimpinya, ia bersalaman menggunakan Nabi Muhammad SAW, yang berpesan, “Mengajarlah, segala kebutuhanmu insya Allah bakal dipenuhi semuanya oleh Allah.”
Di kemudian hari, Mbah Ma’shum menjelma ulama besar yang dikenal mengantongi banyak karamah. Inilah sebagian kisah karamahnya:
1. Mengetahui kapan ajal tiba.
Ketika Mbah Ma’shum mendengar kabar bahwa Mbah Baidhowi wafat, beliau merasa bahwa ajalnya telah dekat, atau beliau mengabarkan : ane bakal meninggal 2 tahun lagi seandainya benar-benar pamanda wafat. Kurang makin 2 tahun sehabis itu beliau benar-benar wafat.
2. Kendaraan datang.
Suatu ketika Mbah Ma’shum pergi ke daerah batang beserta rombongan menggunakan berjalan kaki, atau waktu itu sudah hampir mahrib, rombongan sedang berada di sebuah musholla. Santri yang mengawal mengingatkan supaya beliau wajib cepat dapat dokar, karena sehabis magrib kagak ada dokar lagi yang beroprasi. Seperti di ketahui bahwa dokar hampir mustahil di temukan beroprasi di malam hari kecuali dokar tersebut telah di carter. Akan tetapi beliau justru minta jatah menunggu maghrib atau melakukan sholat maghrib di situ. Si santri mengingatkan lagi bahwa di khawatirkan nanti ketinggalan dokar, beliau menggunakan tenangnya dawuh bahwa “ kendaraan itu urusan belakang” yang penting sholat dulu. Akhirnya mereka pun sholat maghrib atau di lanjutkan lagi sampai waktu isya’ sehabis sholat isya’ begitu keluar dari tempat itu, tiba-tiba saja lewat sebuah dokar kosong atau mereka menaikinya.
3. Beras datang tak terduga
Ada sebuah kisah : suatu ketika Mbah Ma’shum menyuruh santri bernama zulkifli jatah mengecek persediaan beras di al hidayah. Beras sudah habis, atau habisnya beras itu disusul menggunakan terjadinya musim kemarau di lasem. Mbah Ma’shum menyuruh zulkifli jatah memanggil cucu-cucunya. Bersama cucu-cucunya (santri zulkifli diajak juga) Mbah Ma’shum mengepalai istighotsah atau membaca potongan syair burdah berikut :
يَا اَكْرَمَ الْخَلْقِ مَالِىْ مَنْ اَلُوْذُ بِهِ # سِوَاكَ عِنْدِ حُلُوْلِ الْحَدِيْثِ الْعَمَم
Artinya : wahai makhluq paling mulia (muhammad) ane kagak ada tempat jatah mencari perlindungan, kecuali kepadamu, pada kejadian malapetaka nan besar.
Syair burdah tersebut di baca sebanyak (kurang makin ) 80 kali, atau di lanjutkan doa seperti berikut : “ya allah gusti, orang-orang yang ada di internal tanggungan kami bukan main banyak bakal tetapi beras yang ada pada kami telah habis, jatah itu kami memohon rezeki dariMu ....” saat doa berlangsung, salah satu yang ikut istighosah menyela “ amin, mbah 1 ton...... Mbah Ma’shum membalas .. kagak 1 ton bahkan makin ......, sebagian hari kemudian, datanglah sebagian orang hendak memberi beras, internal jumlah yang besar, dari pemalang atau pasuruan. Menurut bapak zulkifli, wirid istighosah itu jika diamalkan bukan main manjur, tentu menggunakan bimasya’atilah.
Kisah perihal habisnya persediaan beras sering terjadi. Dalam sebuah riwayat yang di ceritakan H.abrori ikhwan, disebutkan bahwa suatu kali stok beras habis. Pagi-pagi sehabis mengasuh alfiyah Mbah Ma’shum memanggil seluruh santri yang mengabdi di ndalem, yang saat itu berjumlah 12 orang di ruang tengah. Kepada mereka Mbah Ma’shum berkata : “ persediaan beras telah habis, jatah itu kita kini berdoa bersama-sama, atau kalian mengamini”. Lalu, Mbah Ma’shum berdoa : ya allah gusti, ane minta beras.....
Doa tersebut di sampaikan tanpa muqoddimah atau tanpa penutup seperti umumnya doa. Kemudian kuranglebih pukul 11.00 siang datanglah sebuah becak yang membawa sebagian karung beras. Pada karung tersebut tertulis alamat pengirimnya yang berdomisili di banyuwangi, Mbah Ma’shum berpesan kep ada H. Abrori akhwan supaya mengingat alamat tersebut. Ketika suatu saat Mbah Ma’shum menggunakan H. Abrori akhwan berkunjung ke banyuwangi atau hendak mampir ke alamat pengirim beras tadi, ternyata alamat tersebut seimbang kebun pisang, yang mana ia berada di pedalaman atau masyarakatnya nyaris kagak ada yang kelebihan yang ditawarkan rizki.
4. Mengetahui bisikan hati
H. abrori akhwan saat masih nyantri di al hidayah pada awal dekade 60-an, ia pernah di minta jatah memijiti Mbah Ma’shum. Saat sedang memijit, H. Abrori akhwan bertanya-tanya internal hati, sebagian pertanyaan itu jarak lain:
Pertanyaan tersebut tergelitik internal hati H. Abrori akhwan saat sedang memijiti Mbah Ma’shum. Tanpa di duga, Mbah Ma’shum secara lisan Memberikan penjelasan yang merupakan sebuah jawaban bagi apa yang sedang di pikirkan oleh H. Abrori akhwan di internal hatinya tadi. Mbah Ma’shum saat itu menyatakan bahwa
Penjelasan Mbah Ma’shum di bagi menggunakan sendirinya dapat dipahami bahwa beliau tIdak tertarik menggunakan simbolisme keagamaan atau kagak sebaliknya bahwa beliau makin senang atau menekankan isi ketimbang kulit.
5. Kacamata yang hilang bisa kembali
Lain halnya menggunakan pengalaman bapak zulkifli semasa mendampingi Mbah Ma’shum bepergian (silaturohim) di wilayah jawa tengah atau jawa timur. Saat ada di kereta obor dari pekalongan menuju tegal, Mbah Ma’shum kehilangan kacamata. Seketika, Mbah Ma’shum mengajak para pengikutnya membaca surat adh-dhuha 8 kali. Khusus ketika sampai pada bacaan fahada- yakni ayat wawajadaka dhoollan fahadaa. Pada saat itu, Mbah Ma’shum dawuh : menggunakan membaca ayat itu insyaallah barang kita yang hilang bakal kembali. Mungkin barang itu bukan murni (milik kita yang hilang) , tetapi setidaknya, allah bakal memberikan ganti yang sesuai . perjalanan dilanjutkan ke majenang, cilacap. Lalu belok ke haluan timur menuju kebumen, atau berkunjung ke rumah kyai fathurrohman (wonoyoso, kebumen kota) ketika sampai di rumah kyai fathurrohman itu Mbah Ma’shum melihat sebuah kacamata yang ada lemari kaca milik tuan rumah. Kacamata itu persis seperti milik beliau yang hilang internal perjalanan. Secara spontan Mbah Ma’shum berseru alhamdulilah, atau berkata kepada kyai fathurrohman, “fathurruhman apa ini kacamata ane ?” kyai fathur ohman membalas : “ya bisa jadi saja mbah.....” lalu dipakailah kacamata itu oleh Mbah Ma’shum.
6. Kedatangan wali songo
H. abrori akhwan yang mengutip kisah dari seseorang yang bernama ahmad, asal banyuwangi, seorang santri yang pernah mengabdi kepada Mbah Ma’shum di dalem. Peristiwa ini terjadi pada sebagian waktu sebelum pemilu 1971. Kejadian bermula ketika Mbah Ma’shum selesai sholat dhuha. Lalu tidur saat ahmad sedang masih memijitnya. Dari luar terdengar suara tamu yang menyampaikan salam. Ahmad pun keluar atau mendapatkan sembilan tamu, yang berwajah habaib, telah duduk melingkar di ruang tamu depan. Salah satu dari mereka bertanya : “Mbah Ma’shum ada ?” oleh ahmad di jawab bahwa beliau masih tidur, sambil menetralkan apa perlu di bangunkan. “kagak usah ....” kata tamu itu. sehabis itu, salah seorang dari mereka berbicara, tetapi ahmad kagak memahami apa yang mereka bicarakan. Kejadian berlangsung kuranglebih 5 menit. Lalu membaca sholawat, atau semuanya berdiri jatah pamitan. Sekali lagi ahmad menetralkan apa perlu membangunkan Mbah Ma’shum. Mereka masih membalas “kagak usah.....” sambil melangkah keluar. saat ahmad mengantarkan mereka keluar, Mbah Ma’shum memanggilnya atau bertanya : ada apa mad? Setelah ahmad menjelaskan, Mbah Ma’shum menyuruhnya memanggil para tamu itu, tetapi ketika ahmad keluar rumah, atau mencari-cari tamu diluar rumah, tamu tersebut sudah kagak jelas lagi. Mestinya sampai kuranglebih 50 meter dari ndalem Mbah Ma’shum. Begitu ahmad kembali jatah melaporkan bahwa para tamu sudah kagak jelas lagi, Mbah Ma’shum memberi tahu bahwa mereka seimbang wali songo, atau yang berbicara mengepalai mereka tadi seimbang sunan ampel. Sesaat Mbah Ma’shum mengabarkan hal itu, beliau langsung tidur pulas, selama berbicara beliau masih internal keadaan tiduran atau seolah-olah bangun hanya jatah memberi tahu jati diri tamu tersebut kepada ahmad.
7. Mendengar keluhan orang-orang di neraka
Di tahun-tahun terakhir hayat beliau, beliau selama sebagian waktu pernah menyuruh seoarang santrinya yang bernama harir, jatah membaca ayat berikut :
Dan mereka berteriak di internal neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami bakal mengerjakan amal yang saleh berlainan menggunakan yang Telah kami kerjakan". atau apakah kami kagak memanjangkan umurmu internal masa yang cukup jatah berfikir jatah orang yang mau berfikir, atau (apakah kagak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab kami) atau kagak ada jatah orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
Mbah Ma’shum menyuruhnya jatah membaca ayat tersebut karena beliau merasa sedang mendengar keluhan keluhan orang-orang yang ada di neraka. Ayat tersebut dibaca berulang-ulang setiap malam selama sebagian bulan.
Sumber : muslimoderat
Source Article and Picture : www.wartaislami.com

MusliModerat.com - Mbah Ma’shum Lasem, Jawa Tengah, seimbang ulama besar yang tindakannya sering sulit dicerna nalar awam. Setelah peristiwanya, barulah orang mengerti apa sesungguhnya yang terjadi.
Diperkirakan, Mbah Ma’shum lahir pada tahun 1868. Dia seimbang buah hati bungsu pasangan Ahmad atau Qosimah. Oleh orangtuanya ia kemudian diserahkan kepada Kiai Nawawi, Jepara, jatah mempelajari ilmu agama, karena sejak kecil diatelah ditinggal wafat oleh ibunya. Dari Kiai Nawai ia mendapat pelajaran dasar ilmu perangkat (nahwu) yang diambil dari kitab Jurumiyyah atau Imrithi.
Pengembaraannya mencari ilmu kagak sebatas di Lasem, melainkan sampai ke Jepara, Kajen (Kiai Abdullah, Kiai Abdul Salam, atau Kiai Siroj), Kudus (Kiai Ma’shum atau Kiai Syarofudin), Sarang Rembang (Kiai Umar Harun), Solo (Kiai Idris), Termas (Kiai Dimyati), Semarang (Kiai Ridhwan), Jombang (Kiai Hasyim Asy’ari), Bangkalan (Kiai Kholil), sampai Makkah (Kiai Mahfudz At-Turmusi), atau kota-kota lain.
Suatu saat, di Semarang, ia tertidur atau bermimpi bersua Nabi Muhammad SAW. Ketika di Bojonegoro, ia kagak hanya bermimpi, melainkan, jarak tertidur atau terjaga, ia bersua menggunakan Nabi, yang memberikan ungkapan La khayra ilia fi nasyr al-ilmi, yang artinya “Tidak ada kebaikan (yang makin utama) daripada menyebarkan ilmu”.
Di rumahnya sendiri, ia bermimpi kembali. Dalam mimpinya, ia bersalaman menggunakan Nabi Muhammad SAW, yang berpesan, “Mengajarlah, segala kebutuhanmu insya Allah bakal dipenuhi semuanya oleh Allah.”
Di kemudian hari, Mbah Ma’shum menjelma ulama besar yang dikenal mengantongi banyak karamah. Inilah sebagian kisah karamahnya:
1. Mengetahui kapan ajal tiba.
Ketika Mbah Ma’shum mendengar kabar bahwa Mbah Baidhowi wafat, beliau merasa bahwa ajalnya telah dekat, atau beliau mengabarkan : ane bakal meninggal 2 tahun lagi seandainya benar-benar pamanda wafat. Kurang makin 2 tahun sehabis itu beliau benar-benar wafat.
2. Kendaraan datang.
Suatu ketika Mbah Ma’shum pergi ke daerah batang beserta rombongan menggunakan berjalan kaki, atau waktu itu sudah hampir mahrib, rombongan sedang berada di sebuah musholla. Santri yang mengawal mengingatkan supaya beliau wajib cepat dapat dokar, karena sehabis magrib kagak ada dokar lagi yang beroprasi. Seperti di ketahui bahwa dokar hampir mustahil di temukan beroprasi di malam hari kecuali dokar tersebut telah di carter. Akan tetapi beliau justru minta jatah menunggu maghrib atau melakukan sholat maghrib di situ. Si santri mengingatkan lagi bahwa di khawatirkan nanti ketinggalan dokar, beliau menggunakan tenangnya dawuh bahwa “ kendaraan itu urusan belakang” yang penting sholat dulu. Akhirnya mereka pun sholat maghrib atau di lanjutkan lagi sampai waktu isya’ sehabis sholat isya’ begitu keluar dari tempat itu, tiba-tiba saja lewat sebuah dokar kosong atau mereka menaikinya.
3. Beras datang tak terduga
Ada sebuah kisah : suatu ketika Mbah Ma’shum menyuruh santri bernama zulkifli jatah mengecek persediaan beras di al hidayah. Beras sudah habis, atau habisnya beras itu disusul menggunakan terjadinya musim kemarau di lasem. Mbah Ma’shum menyuruh zulkifli jatah memanggil cucu-cucunya. Bersama cucu-cucunya (santri zulkifli diajak juga) Mbah Ma’shum mengepalai istighotsah atau membaca potongan syair burdah berikut :
يَا اَكْرَمَ الْخَلْقِ مَالِىْ مَنْ اَلُوْذُ بِهِ # سِوَاكَ عِنْدِ حُلُوْلِ الْحَدِيْثِ الْعَمَم
Artinya : wahai makhluq paling mulia (muhammad) ane kagak ada tempat jatah mencari perlindungan, kecuali kepadamu, pada kejadian malapetaka nan besar.
Syair burdah tersebut di baca sebanyak (kurang makin ) 80 kali, atau di lanjutkan doa seperti berikut : “ya allah gusti, orang-orang yang ada di internal tanggungan kami bukan main banyak bakal tetapi beras yang ada pada kami telah habis, jatah itu kami memohon rezeki dariMu ....” saat doa berlangsung, salah satu yang ikut istighosah menyela “ amin, mbah 1 ton...... Mbah Ma’shum membalas .. kagak 1 ton bahkan makin ......, sebagian hari kemudian, datanglah sebagian orang hendak memberi beras, internal jumlah yang besar, dari pemalang atau pasuruan. Menurut bapak zulkifli, wirid istighosah itu jika diamalkan bukan main manjur, tentu menggunakan bimasya’atilah.
Kisah perihal habisnya persediaan beras sering terjadi. Dalam sebuah riwayat yang di ceritakan H.abrori ikhwan, disebutkan bahwa suatu kali stok beras habis. Pagi-pagi sehabis mengasuh alfiyah Mbah Ma’shum memanggil seluruh santri yang mengabdi di ndalem, yang saat itu berjumlah 12 orang di ruang tengah. Kepada mereka Mbah Ma’shum berkata : “ persediaan beras telah habis, jatah itu kita kini berdoa bersama-sama, atau kalian mengamini”. Lalu, Mbah Ma’shum berdoa : ya allah gusti, ane minta beras.....
Doa tersebut di sampaikan tanpa muqoddimah atau tanpa penutup seperti umumnya doa. Kemudian kuranglebih pukul 11.00 siang datanglah sebuah becak yang membawa sebagian karung beras. Pada karung tersebut tertulis alamat pengirimnya yang berdomisili di banyuwangi, Mbah Ma’shum berpesan kep ada H. Abrori akhwan supaya mengingat alamat tersebut. Ketika suatu saat Mbah Ma’shum menggunakan H. Abrori akhwan berkunjung ke banyuwangi atau hendak mampir ke alamat pengirim beras tadi, ternyata alamat tersebut seimbang kebun pisang, yang mana ia berada di pedalaman atau masyarakatnya nyaris kagak ada yang kelebihan yang ditawarkan rizki.
4. Mengetahui bisikan hati
H. abrori akhwan saat masih nyantri di al hidayah pada awal dekade 60-an, ia pernah di minta jatah memijiti Mbah Ma’shum. Saat sedang memijit, H. Abrori akhwan bertanya-tanya internal hati, sebagian pertanyaan itu jarak lain:
Pertanyaan tersebut tergelitik internal hati H. Abrori akhwan saat sedang memijiti Mbah Ma’shum. Tanpa di duga, Mbah Ma’shum secara lisan Memberikan penjelasan yang merupakan sebuah jawaban bagi apa yang sedang di pikirkan oleh H. Abrori akhwan di internal hatinya tadi. Mbah Ma’shum saat itu menyatakan bahwa
Penjelasan Mbah Ma’shum di bagi menggunakan sendirinya dapat dipahami bahwa beliau tIdak tertarik menggunakan simbolisme keagamaan atau kagak sebaliknya bahwa beliau makin senang atau menekankan isi ketimbang kulit.
5. Kacamata yang hilang bisa kembali
Lain halnya menggunakan pengalaman bapak zulkifli semasa mendampingi Mbah Ma’shum bepergian (silaturohim) di wilayah jawa tengah atau jawa timur. Saat ada di kereta obor dari pekalongan menuju tegal, Mbah Ma’shum kehilangan kacamata. Seketika, Mbah Ma’shum mengajak para pengikutnya membaca surat adh-dhuha 8 kali. Khusus ketika sampai pada bacaan fahada- yakni ayat wawajadaka dhoollan fahadaa. Pada saat itu, Mbah Ma’shum dawuh : menggunakan membaca ayat itu insyaallah barang kita yang hilang bakal kembali. Mungkin barang itu bukan murni (milik kita yang hilang) , tetapi setidaknya, allah bakal memberikan ganti yang sesuai . perjalanan dilanjutkan ke majenang, cilacap. Lalu belok ke haluan timur menuju kebumen, atau berkunjung ke rumah kyai fathurrohman (wonoyoso, kebumen kota) ketika sampai di rumah kyai fathurrohman itu Mbah Ma’shum melihat sebuah kacamata yang ada lemari kaca milik tuan rumah. Kacamata itu persis seperti milik beliau yang hilang internal perjalanan. Secara spontan Mbah Ma’shum berseru alhamdulilah, atau berkata kepada kyai fathurrohman, “fathurruhman apa ini kacamata ane ?” kyai fathur ohman membalas : “ya bisa jadi saja mbah.....” lalu dipakailah kacamata itu oleh Mbah Ma’shum.
6. Kedatangan wali songo
H. abrori akhwan yang mengutip kisah dari seseorang yang bernama ahmad, asal banyuwangi, seorang santri yang pernah mengabdi kepada Mbah Ma’shum di dalem. Peristiwa ini terjadi pada sebagian waktu sebelum pemilu 1971. Kejadian bermula ketika Mbah Ma’shum selesai sholat dhuha. Lalu tidur saat ahmad sedang masih memijitnya. Dari luar terdengar suara tamu yang menyampaikan salam. Ahmad pun keluar atau mendapatkan sembilan tamu, yang berwajah habaib, telah duduk melingkar di ruang tamu depan. Salah satu dari mereka bertanya : “Mbah Ma’shum ada ?” oleh ahmad di jawab bahwa beliau masih tidur, sambil menetralkan apa perlu di bangunkan. “kagak usah ....” kata tamu itu. sehabis itu, salah seorang dari mereka berbicara, tetapi ahmad kagak memahami apa yang mereka bicarakan. Kejadian berlangsung kuranglebih 5 menit. Lalu membaca sholawat, atau semuanya berdiri jatah pamitan. Sekali lagi ahmad menetralkan apa perlu membangunkan Mbah Ma’shum. Mereka masih membalas “kagak usah.....” sambil melangkah keluar. saat ahmad mengantarkan mereka keluar, Mbah Ma’shum memanggilnya atau bertanya : ada apa mad? Setelah ahmad menjelaskan, Mbah Ma’shum menyuruhnya memanggil para tamu itu, tetapi ketika ahmad keluar rumah, atau mencari-cari tamu diluar rumah, tamu tersebut sudah kagak jelas lagi. Mestinya sampai kuranglebih 50 meter dari ndalem Mbah Ma’shum. Begitu ahmad kembali jatah melaporkan bahwa para tamu sudah kagak jelas lagi, Mbah Ma’shum memberi tahu bahwa mereka seimbang wali songo, atau yang berbicara mengepalai mereka tadi seimbang sunan ampel. Sesaat Mbah Ma’shum mengabarkan hal itu, beliau langsung tidur pulas, selama berbicara beliau masih internal keadaan tiduran atau seolah-olah bangun hanya jatah memberi tahu jati diri tamu tersebut kepada ahmad.
7. Mendengar keluhan orang-orang di neraka
Di tahun-tahun terakhir hayat beliau, beliau selama sebagian waktu pernah menyuruh seoarang santrinya yang bernama harir, jatah membaca ayat berikut :
Dan mereka berteriak di internal neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami bakal mengerjakan amal yang saleh berlainan menggunakan yang Telah kami kerjakan". atau apakah kami kagak memanjangkan umurmu internal masa yang cukup jatah berfikir jatah orang yang mau berfikir, atau (apakah kagak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab kami) atau kagak ada jatah orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
Mbah Ma’shum menyuruhnya jatah membaca ayat tersebut karena beliau merasa sedang mendengar keluhan keluhan orang-orang yang ada di neraka. Ayat tersebut dibaca berulang-ulang setiap malam selama sebagian bulan.
Sumber : muslimoderat
Source Article and Picture : www.wartaislami.com
Komentar
Posting Komentar