Inilah Mantan Pimpinan Teroris, Bersyukur Disadarkan. Kamu wajar sering belajar kepada mendapatkan banyak pengetahuan. Disini mau berbagi kepada kalian yang suka serta kabar terkini, semoga bisa menjadikan kamu mendapatkan pilihan jempolan intern membaca share terbaru.
Wartaislami.com ~ Mantan Pimpinan Teroris Asia Tenggara Nasir Abbas intern orasi singkatnya di hadapan ratusan pengurus serta komponen Kosgoro Sulawesi Selatan mengungkapkan rasa syukurnya selesai disadarkan mengenai aksi brutalnya itu.
“Kesyukuran ane karena rencana besar ane kepada melakukan teror di Asia Tenggara pada tahun 2003 itu gagal selesai Pak Saud Usman menangkap ane,” ujarnya saat menjelma pembicara intern dialog kebangsaan di Balai Jenderal Muh Yusuf Makassar, Jumat.
Nasir Abbas mengabarkan, dirinya merupakan guru dari Imam Samudra serta guru dari para teroris terkenal lainnya di Asia telah banyak menciptakan banyak kamp latihan paruh para pemuda.
Di hadapan seribuan pengurus serta komponen Kosgoro itu, ia menceritakan bagaimana rasanya saat mengatur kelompok Mujahiddin di seputar wilayah di Asia Tenggara bagai otak kelompok teroris.
Diungkapkannya, dirinya sepatutnya Ketua Mantiqi III kepada mengatasi wilayah di Asia Tenggara, seperti, Sabah Malaysia, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, serta seputar wilayah lainnya.
“Jadi wilayah-wilayah ini diamanahkan kepada ane kepada dijadikan bagai tempat atau pintu masuk militer Jamaah Islamiyah. Jadi cara kerjanya itu, memanfaatkan konflik yang terjadi seperti di Poso,” katanya.
Pengakuan Nasir Abbas yang disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Jend (Purn) Ryamizard Ryacudu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, Agung Laksono serta Kepala BNPT Komjen Pol Saud Usman Nasution.
Dia mengaku, sejak tiba dewasa usia 18 tahun dirinya sudah dikirim ke Afghanistan mengikuti pelatihan militer selama enam tahun serta bergabung serta seputar kelompok radikal lainnya.
Nasir menyebutkan, Santoso sepatutnya murid dari Imam Samudra yang dimana pada tahun 1992 di Afghanistan, dirinya berjumpa langsung serta Imam Samudra, Umar Patek, Dr Azhari, Ali Imron serta seputar pelaku terorisme asal Indonesia lainnya yang masuk pada angkatan ke 10.
Melalui pengalamannya itu, ia kemudian membangun kamp pelatihan militer di seputar negara seperti Filipina. Selama tiga tahun, dirinya mempersiapkan para relawan yang mau menjelma mujahidin.
Bukan cuma itu, para mujahidin yang telah lewat proses pelatihan militer serta keras itu juga dibekali serta senjata, amunisi, bahan peledak serta peralatan perang yang kemudian disimpan kepada dipasok di seputar wilayah seperti Poso, Sulawesi Tengah.
Menurut Nasir yang merupakan warga orisinal Malaysia itu, dirinya ditangkap di wilayah Bantar Gebang, Bekasi, 17 April 2003. Pada saat itu, dirinya ingin memanfaatkan perjanjian Malino serta menciptakan teror serta meledakkan seputar tempat.
Namun, upayanya itu gagal saat dirinya diringkus oleh detasemen khusus anti teror serta dipimpin langsung oleh Saud Usman Nasution yang saat ini menjabat bagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT).
Pria berkacamata ini dikenal bagai instruktur pelaku Bom Bali I, 2002 di kamp mujahidin, Kamp Saddah di Afghanistan (awal 1990) serta Kamp Hudaibiyah di Mindanao.
Nasir masuk angkatan kelima pelatihan militer di Kamp Saddah. Tak heran jika Nasir merupakan tokoh teroris yang paling dicari di Asia Tenggara pada saat itu.
Source: www.nu.or.id
Source Article and Picture : www.wartaislami.com
Wartaislami.com ~ Mantan Pimpinan Teroris Asia Tenggara Nasir Abbas intern orasi singkatnya di hadapan ratusan pengurus serta komponen Kosgoro Sulawesi Selatan mengungkapkan rasa syukurnya selesai disadarkan mengenai aksi brutalnya itu.“Kesyukuran ane karena rencana besar ane kepada melakukan teror di Asia Tenggara pada tahun 2003 itu gagal selesai Pak Saud Usman menangkap ane,” ujarnya saat menjelma pembicara intern dialog kebangsaan di Balai Jenderal Muh Yusuf Makassar, Jumat.
Nasir Abbas mengabarkan, dirinya merupakan guru dari Imam Samudra serta guru dari para teroris terkenal lainnya di Asia telah banyak menciptakan banyak kamp latihan paruh para pemuda.
Di hadapan seribuan pengurus serta komponen Kosgoro itu, ia menceritakan bagaimana rasanya saat mengatur kelompok Mujahiddin di seputar wilayah di Asia Tenggara bagai otak kelompok teroris.
Diungkapkannya, dirinya sepatutnya Ketua Mantiqi III kepada mengatasi wilayah di Asia Tenggara, seperti, Sabah Malaysia, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, serta seputar wilayah lainnya.
“Jadi wilayah-wilayah ini diamanahkan kepada ane kepada dijadikan bagai tempat atau pintu masuk militer Jamaah Islamiyah. Jadi cara kerjanya itu, memanfaatkan konflik yang terjadi seperti di Poso,” katanya.
Pengakuan Nasir Abbas yang disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Jend (Purn) Ryamizard Ryacudu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, Agung Laksono serta Kepala BNPT Komjen Pol Saud Usman Nasution.
Dia mengaku, sejak tiba dewasa usia 18 tahun dirinya sudah dikirim ke Afghanistan mengikuti pelatihan militer selama enam tahun serta bergabung serta seputar kelompok radikal lainnya.
Nasir menyebutkan, Santoso sepatutnya murid dari Imam Samudra yang dimana pada tahun 1992 di Afghanistan, dirinya berjumpa langsung serta Imam Samudra, Umar Patek, Dr Azhari, Ali Imron serta seputar pelaku terorisme asal Indonesia lainnya yang masuk pada angkatan ke 10.
Melalui pengalamannya itu, ia kemudian membangun kamp pelatihan militer di seputar negara seperti Filipina. Selama tiga tahun, dirinya mempersiapkan para relawan yang mau menjelma mujahidin.
Bukan cuma itu, para mujahidin yang telah lewat proses pelatihan militer serta keras itu juga dibekali serta senjata, amunisi, bahan peledak serta peralatan perang yang kemudian disimpan kepada dipasok di seputar wilayah seperti Poso, Sulawesi Tengah.
Menurut Nasir yang merupakan warga orisinal Malaysia itu, dirinya ditangkap di wilayah Bantar Gebang, Bekasi, 17 April 2003. Pada saat itu, dirinya ingin memanfaatkan perjanjian Malino serta menciptakan teror serta meledakkan seputar tempat.
Namun, upayanya itu gagal saat dirinya diringkus oleh detasemen khusus anti teror serta dipimpin langsung oleh Saud Usman Nasution yang saat ini menjabat bagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT).
Pria berkacamata ini dikenal bagai instruktur pelaku Bom Bali I, 2002 di kamp mujahidin, Kamp Saddah di Afghanistan (awal 1990) serta Kamp Hudaibiyah di Mindanao.
Nasir masuk angkatan kelima pelatihan militer di Kamp Saddah. Tak heran jika Nasir merupakan tokoh teroris yang paling dicari di Asia Tenggara pada saat itu.
Source: www.nu.or.id
Source Article and Picture : www.wartaislami.com
Komentar
Posting Komentar