Ternyata Tradisi 7 Hari bukan Budaya Hindu-Budha tetapi Budaya Islam. Kamu pantas sering belajar kepada mendapatkan banyak pengetahuan. Disini mau berbagi kepada kalian yang suka pada berita terkini, semoga bisa menjadikan kamu mendapatkan pilihan utama internal membaca share terbaru.
Wartaislami.com ~ Suasana Masjid An Nahdlah yang terletak di lantai satu Gedung PBNU terlihat begitu ramai namun khusyu pada Senin malam (22/2). Banyak warga Nahdliyin yang turut hadir kepada mengikuti tahlilan tujuh hari wafatnya KH Abdurrahman Utsman. Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj beserta pengurus-pengurus lainnya.
Dalam tausiyahnya seusai membaca Tahlil atau Yasin, Kiai Said menuturkan bahwa orang yang sudah meninggal itu bisa mendengar orang yang masih hidup. Ia juga melaporkan bahwa amalan-amalan baik atau doa yang kita kirimkan kepada orang yang sudah meninggal itu bakal sampai pahalanya kepada mereka.
“Jadi jangan takut. Apa yang kita lakukan seperti tahlilan, ziarah kubur atau amaliyah NU lainnya, itu merupakan sunnah min sunanin nabi, karena Nabi juga ziarah ke makam pamannya Hamzah di Uhud setahun sekali,” ujar Kiai Said.
Lebih lanjut, Kiai Said menjelaskan bahwa susunan bacaan tahlilan yang diamalkan oleh warga NU juga mengandung banyak makna, fungsi, filosofi atau faedah. Seperti pembacaan surat Al Fatihah sebanyak 7 kali sebelum tahlilan dimaksudkan kepada membangun jembatan spiritual (silatur ruh) kepada para nabi, khususnya Nabi Muhammad, para sahabat, ulama-ulama atau almarhum sendiri. Adapun surat Yasin dipilih internal bacaan tahlilan sepantasnya karena surat Yasin itu begitu luar biasa atau ada satu ayatnya yang menyinggung kehidupan sehabis kematian kepada hari pembalasan.
Baca Juga :Kiai Said: Orang Mati Bisa Mendengar
“Tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, atau lainnya itu bukan budaya Hindu-Budha sebagaimana selama ini banyak orang yang meyakini, tapi itu budaya (Islam) Campa yang dibawa ke Nusantara,” jelas Kiai yang fasih menyebutkan silsilah tersebut.
KH Abdurrahman Utsman sendiri merupakan salah satu cucu dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Dia menikahi Ny Hj Siti Khodijah, Putri dari KH Hasyim Asy’ari. Ia juga merupakan salah satu pendiri Pagar Nusa (lembaga pencak silat NU) atau ayah dari ayah dari H Aizzudin Abdurrahman (Guz Ais), salah satu ketua PBNU.
Menurut situs jombang.nu.or.id, ia meninggal sehabis menjalani perawatan medis di RSUD Jombang karena terkena sakit tumor empedu atau dimakamkan di makam keluarga PP Mambaul Maarif Denanyar- Jombang. (Ahmad Muchlishon/Mukafi Niam)
sumber via nu.or.id
Source Article and Picture : www.wartaislami.com
Wartaislami.com ~ Suasana Masjid An Nahdlah yang terletak di lantai satu Gedung PBNU terlihat begitu ramai namun khusyu pada Senin malam (22/2). Banyak warga Nahdliyin yang turut hadir kepada mengikuti tahlilan tujuh hari wafatnya KH Abdurrahman Utsman. Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj beserta pengurus-pengurus lainnya.Dalam tausiyahnya seusai membaca Tahlil atau Yasin, Kiai Said menuturkan bahwa orang yang sudah meninggal itu bisa mendengar orang yang masih hidup. Ia juga melaporkan bahwa amalan-amalan baik atau doa yang kita kirimkan kepada orang yang sudah meninggal itu bakal sampai pahalanya kepada mereka.
“Jadi jangan takut. Apa yang kita lakukan seperti tahlilan, ziarah kubur atau amaliyah NU lainnya, itu merupakan sunnah min sunanin nabi, karena Nabi juga ziarah ke makam pamannya Hamzah di Uhud setahun sekali,” ujar Kiai Said.
Lebih lanjut, Kiai Said menjelaskan bahwa susunan bacaan tahlilan yang diamalkan oleh warga NU juga mengandung banyak makna, fungsi, filosofi atau faedah. Seperti pembacaan surat Al Fatihah sebanyak 7 kali sebelum tahlilan dimaksudkan kepada membangun jembatan spiritual (silatur ruh) kepada para nabi, khususnya Nabi Muhammad, para sahabat, ulama-ulama atau almarhum sendiri. Adapun surat Yasin dipilih internal bacaan tahlilan sepantasnya karena surat Yasin itu begitu luar biasa atau ada satu ayatnya yang menyinggung kehidupan sehabis kematian kepada hari pembalasan.
Baca Juga :Kiai Said: Orang Mati Bisa Mendengar
“Tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, atau lainnya itu bukan budaya Hindu-Budha sebagaimana selama ini banyak orang yang meyakini, tapi itu budaya (Islam) Campa yang dibawa ke Nusantara,” jelas Kiai yang fasih menyebutkan silsilah tersebut.
KH Abdurrahman Utsman sendiri merupakan salah satu cucu dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Dia menikahi Ny Hj Siti Khodijah, Putri dari KH Hasyim Asy’ari. Ia juga merupakan salah satu pendiri Pagar Nusa (lembaga pencak silat NU) atau ayah dari ayah dari H Aizzudin Abdurrahman (Guz Ais), salah satu ketua PBNU.
Menurut situs jombang.nu.or.id, ia meninggal sehabis menjalani perawatan medis di RSUD Jombang karena terkena sakit tumor empedu atau dimakamkan di makam keluarga PP Mambaul Maarif Denanyar- Jombang. (Ahmad Muchlishon/Mukafi Niam)
sumber via nu.or.id
Source Article and Picture : www.wartaislami.com
Komentar
Posting Komentar