Kisah Kepahlawanan KH Anwar Musaddad. Kamu mesti sering belajar alokasi mendapatkan banyak pengetahuan. Disini mau berbagi kepada kalian yang suka demi keterangan terkini, semoga bisa menjadikan kamu mendapatkan pilihan termulia intern membaca share terbaru.
Kehidupan KH Anwar Musaddad, sejak lahir tahun 1910, sampai wafat tahun 2000, terbagi intern seputar episode yang menjadikan dirinya menjabat patriot, pendidik, juru dakwah, penulis, serta ulama panutan umat.
Sejak berusia 4 tahun, menjabat yatim. Sehingga bersama adik-adiknya, dibesarkan oleh ibunya, Siti Marfu’ah, seorang wiraswasta pengusaha batik Garutan serta dodol Garut “Kuraesin”. Rajin mengaji khusus hafalan Al Quran (tahfidz) serta fiqh. Usia sekolah, masuk HIS Kristen, karena menjabat pribumi bukan keturunan pegawai negeri (ambtenar) serta bukan dari kalangan bangsawan (menak) kagak dapat masuk HIS Negeri.
Setamat HIS Kristen, melanjutkan ke MULO Kristen di Sukabumi, sambil belajar mengaji serta memperdalam ajaran Islam kepada Ustadz Sakhroni. Setamat MULO Kristen Sukabumi (1925), Musaddad melanjutkan ke AMS Kristen, Jakarta. Tapi hanya dua tahun duduk di bangku AMS Kristen Jakarta, Musaddad pulang ke Garut. Masuk pesantren Cipari, Wanaraja asuhan Kiyai Harmaen, salah seorang ulama yang terkenal “lébér wawanén” (bukan main berani) menentang pemerintah kolonial Belanda, serta memperjuangkan kemerdekaan nasional, serta aktip di “Syarikat Islam” pimpinan HOS Cokroaminoto.
Dari Cipari, Musaddad berangkat ke Jakarta, alokasi memperdalam bahasa Arab di Madrasah Al Ikhlas Jakarta.Menumpang di rumah HOS Cokroaminto, yang merupakan sahabat Kyai Harmaen. Sehingga menginjak memahami politik serta dunia tulis menulis. Musaddad membantu SK Fajar Asia, yang dipimpin Cokroaminoto, demi menerjemahkan berita-berita dari bahasa Belanda, alokasi media perjuangan tersebut.
Itulah episode awal pembentukan jiwa intelektual Anwar Musaddad, yang kemudian matang di dunia politik serta piawai menuangkan gagasan intern bentuk tulisan. Episode selanjutnya, masa belajar di Mekkah, 1930-1941. Ia memuntut ilmu kepada para ulama terkenal Mekkah masa itu. Antara lain Sayyid Alwi al Maliki, Syekh Umar Hamdan, Sayyid Amin Qubti, Syekh Janan Toyyib (Mufgi Tanah Haram asal Minang), Syekh Abdul Muqoddasi (Mufti Tanah Haram asal Solo).
Tahun 1939, pecah Perang Dunia II. Musaddad energik intern pembentukan Komite Kesengsaraan Mukimin Indonesia (Kokesin), yang mengusahakan pertolongan kepada para mukimin serta membantu pemulangan mereka ke tanah minuman. Setelah tiba di tanah minuman, tahun 1941, Musaddad aktip menjabat juru dakwah serta melatih agama pada seputar sekolah yang ada di Garut.Antara lain, Sekolah Normal Guru Islam, yang didirikan Syarikat Islam.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), menjabat Kepala Kantor Urusan Agama Priangan, serta menjabat Ketua Masyumi daerah Priangan. Setelah proklamasi kemerdekaan, diangkat menjabat Kepala Kantor Urusan Agama Priangan. Pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1949), bersama KH Yusuf Taujiri serta KH Mustofa Kamil, mengepalai pasukan Hizbullah, melawan agresi Belanda yang ingin kembali menjajah RI. Sempat ditangkap Belanda (1948) serta mendekam di penjara.Baru dibebaskan sesudah pengakuan kedaulatan (1950).
Selanjutnya, mendapat tugas dari Menteri Agama KH Fakih Usman alokasi mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta, yang menjabat cikal-bakal Institut Agama Islam Negeri (IAIN), kemudian menjabat Universitas Islam Negeri (UIN) di seluruh Indonesia. Di bidang politik, Anwar Musaddad menjabat bagian parlemen (DPR) dari Partai Nahdlatul Ulama (NU) hasil penunjukan umum tahun 1955. Menjadi bagian DPR-GR 1960-1971, serta menjabat Wakil Rais ‘Am PBNU pada Muktamar NU di Semarang (1980)*1).
Dari paparan di bagi, jelas jelas, Anwar Musaddad mengantongi andil besar intern percaturan nasional,sejak sebelum serta sesudah kemerdekaan . Sebagai ulama yang faham betul prinsip “hubbul wathon minal iman” (Cinta tanah minuman bagian dari iman), Anwar Musaddad terlibat langsung intern mewujudkan serta membela kemerdekaan tanah minuman. Keterlibatannya intern membela kehidupan para mukimin Indoenesia di Saudi Arabia, agar kagak terdampak hal-hal negatif dari Perang Dunia II (1939-1945), sejajar demi keterlibatannya intern mengepalai Hizbullah selama perang kemerdekaan menegakkan proklamasi, merupakan wujud patriotisme yang luar biasa. Pesantren Cipari, tempat Anwar Musaddad menutut ilmu sebelum berangkat ke Mekkah, sepatutnya sebuah pesantren multifungsi.Selain mendidik para santri menyelami ilmu-ilmu agama Islam, alokasi mencapai taraf”tafaquh fiddin” (ahli agama), juga menggembleng para santri alokasi mencintai tanah minuman serta siap melawan penjajah.
Pasukan kolonial Belanda, pada masa perang kemerdekaan, sering ketakutan menghadapi semangat juang para santri serta ajengan pesantren Cipari, yang menjabat basis pertahanan para pejuang kemerdekaan di kawasan timur Kabupaten Garut. Sosok serta peran Anwar Musaddad kagak dapat dipisahkan dari gerak anti kolonialisme Pesantren Cipari *2).
Di bidang pendidikan, alokasi mengggembleng sumberdaya manusia yang lengkap sempurna, selain mendirikan PTAIN/IAIN, ketika menjabat Rektor IAIN Sunan Gunung Jati, Bandung (1968-1975) Anwar Musaddad juga mendirikan Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) di Garut, Cipasung Tasikmalaya, Cilendek Bogor, Ciparay Bandung, Majalengka, dll.Tujuannya, agar jumlah mahasiswa IAIN meningkat. Tujuan lainnya, menjabat perwujudan obsesi Anwar Musaddad “mengulamakan intelektual” serta “mengintelktualkan ulama”.
Karena kenyataan di lapangan waktu itu, banyak ulama yang kagak “intelek”. Hanya memahami ilmu-ilmu agama, tanpa mengenal ilmu-ilmu umum. Begitu pula, banyak intelektual hanya menguasai ilmu-ilmu umum, tapi tak mengenal ilmu agama. Banyak jalan ditempuh Anwar Musaaddad intern mewujudkan obsesinya itu.
Selain lewat jalur formal (pembentukan IAIN, SP IAIN, dll), juga jalur non-formal. Seperti “kursus politk" yang diselenggarakan th. 1964-1965, kepada para santri serta kiyai, intern rangka pencegahan penyebaran faham komunisme serta penetrasi Partai Komunis Indonesia(PKI) di daerah-daerah, khususnya Garut*3). Lahan serta sasaran dakwah Anwar Musaddad, kagak hanya terbatas di lingkungan perkotaan, kampus atau lingkungan akademik saja.Melainkan juga kampung-kampung serta pedesaan terpencil yang belum dapat dimasuki kendaraan. Jangankan roda empat, roda dua pun masih sulit. Maka terpaksa menempuh jalan kaki. Materi dakwah yang disampaikan juga, beragam. Untuk lingkungan kota serta akademik, kelihatannya yang muluk-muluk tinggi serba ilmiah. Sedangkan alokasi di kampung-kampung, bukan main sederhana namun amat penting alokasi diketahui serta difahami masyarakat keseluruhan.Terutama intern pengetahuan ilmu fiqh serta penerapannya.*4)
Walaupun Anwar Musaddad seorang Nahdliyin, bahkan menduduki posisi puncak di kepengurusan NU tingkat pusat, namun kagak fanatik mazhab atau pendapat yang bersifat “furuiyah” (ranting masalah) yang kerap menimbulkan perbedaan faham. Anwar Musaddad selalu memungut jalan tengah. “Khoirul umur awsatuha”. Sebaik-baik perkara sepatutnya yang tengah-tengah*5) Selain materi-materi praktis yang dibutuhkan intern praktek peribadatan sehari-sehari, seperti bersuci, pada lingkungan pendengar (mustami) tertentu, kadang-kadang Anwar Musaddad menyampaikan materi mengandung unsur “sufistik” (supranatural), baik berdasarkan pengalaman sendiri, maupun mengutip referensi kitab-kitab klasik**6).
Pengajian khusus yang diselenggarakan Anwar Musaddad, seperti “kursus politik” seperti disinggung di bagi, sepatutnya pembacaan kitab “Hikam” sebulan sekali. Diikuti para kiyai dari berbagai pesantren seluruh Garut, bahkan Bandung,Tasikmalaya serta Sumedang. Keluasan pengetahuan Anwar Musaddad yang bukan main holistik, serta komprehensif integral,membuat para pendengar terpana mendengar pembahasan isi kitab klasik yang sulit difahami itu.*7).
Akhirul Kalam Menyaksikan serta merasakan jejak langkah KH Anwar Musaddad, sebagian besar orang sudah menganggap Anwar Musaddad menjabat “pahlawan”. Minimal pahlawan alokasi lingkungan keluarga, warga Nahdliyin serta civitas akademika IAIN serta pesantren-pesantren yang para kiyainya berguru kepada Anwar Musaddad. Sebuah pengakuan yang cukup kuat, alokasi menjadikan Anwar Musaddad pahlawan legal formal, seperti umumnya para pahlawan nasional yang diakui pemerintah.***** (Usep Romli HM)
Catatan :
1.Riwayat hidup Anwar Musaddad, dapat dilihat rumpang lain intern buku “Ensiklopedi Sunda, Alam, Manusia serta Budaya, Termasuk Budaya Cirebon serta Betawi” (Pustaka Jaya,2000) hal. 56.
2.Pesantren Cipari, merupakan salah satu pesantren tertua serta terkenal di Kab.Garut,di samping Keresek (Cibatu), Kudang(Limbangan), Al Hikmah (Tarogong). Sebuah “ceritera rakyat” (folklore) yang dihimpun Panitia Tahun Buku Internasional Indonesia 1972, UNESCO, mengisahkan patriotisme para santri serta kiyai Cipari. Disebutkan, th.1948, pasukan Belanda dari Cibatu, mau menyerang Cipari. Karena berita mendadak, serta hari Jum’at pula, penduduk serta para pejuang kagak sempat menghindar.Mereka terkepung oleh pasukan bersenjata lengkap. KH Anwar Musaddad serta KH Yusuf Taujiri, menyuruh pria-pria masuk masjid alokasi bersiap melaksanakan salat Jum’at. Sebelum tiba waktu adzan, KH Anwar Musaddad mengepalai pembacaan do’a “Hizib Bahri”. Setelah adzan, KH Yusuf Taujiri berkhotbah. Selama khotbah kagak ada seorangpun jamaah yang tertidur seperti biasanya. Usai salat Jum’at, seorang penduduk melaporkan, tentara Belanda yang mengepung pesantren semua tertidur lelap. Bergelimpangan di pematang, jalan setapak, kebun, dsb. Mereka pertama kali terbangun sesudah hari menjelang senja. Pesantren Cipari telah sepi ditinggalkan penghuninya mengungsi ke tempat hening. Kisah serupa dapat ditemukan intern buku “Berangkat dari Pesantren” karya KH Saifuddin Zuhri (1986) hal.271. Terjadi di Ambarawa.Tentara Inggris serta NICA (Belanda), yang sedang mengepung markas pejuang, tiba-tiba mengundurkan diri sebelum subuh tiba. Pada waktu, para pejuang yang dipimpin KH Syaifuddin Zuhri, KH Dahlar, dll., semalaman membaca wirid “Hizbun Nashr “. Tampaknya pembacaan wirid atau hizib ini sudah menjabat tradisi di kalangan para ulama NU.
3). “Kursus Politik” yaitu pelajaran politik, ilmu serta praktek, dari seorang atau seputar orang politikus kepada bagian partainya.KH Musaddad menyelenggarakan “kursus politik” kepada para ajengan pesantren yang berafiliasi kepada NU, bagian ormas NU (GP Ansor,PMII, IPNU).Tujuannya sepatutnya, agar warga NU waspada menghadapi gerakan PKI yang menginjak masuk ke desa-desa di Kab.Garut sejak th.1960. Para peserta kursus diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat,warga NU khususnya, umat Islam umumnya, karena PKI menggunakan sayap organisasi “Ikhwanul Muslimin” alokasi mengelabui umat Islam agar mau masuk PKI. “IM” PKI diketuai oleh KH Anwar Sanusi. Anak KH Anwar, yaitu Amir, pada waktu itu menjabat salah seorang bagian CC (pimpinan pusat) PKI yang diketuai DN Aidit. “Kursus Politik” di Garut, sebenarnya bukan hal pertama kali.Tahun 1930-an, Syarikat Islam sering menyelenggarakan “kursus politik” di desa serta kecamatan. Dinamakan “verhadering” (diucapkan oleh masyarakat menjabat “pahadreng”. Perdebatan. Tokoh-tokoh SI pusat,seperti HOS Cokroaminoto, Agus Salim, Abikusno, sering terjun ke Garut. Pada waktu bersamaan demi “kursus politik” Islam Anwar Musaddad, di Garut terselenggara pula “kursus politik” alokasi kaum nasionalis (PNI) di rumah Burhan Mustapa, Jl.Bank 14. BM terkenal menjabat tokoh PNI.Tapi salah seorang putranya., Awan Karmawan, aktip di Golongan Karya (Golkar). Sejak 1971 menjabat bagian DPR RI dari Golkar serta bertahun-tahun menjabat Ketua DPP Golkar sampai masa reformasi th.1998. 4).Hal-hal “ringan” tapi “berat” menurut ukuran dosa (kabair) sering dibahas intern dakwah Anwar Musaddad. Misalnya, menganggap remeh minuman kencing. Sehingga sehabis kencing kagak bersuci. Padahal minuman kencing terhitung najis.
5). Masalah “furuiyah” yang kerap menjabat sumbner keributan di masyarakat awam, rumpang lain melalukan qunut pada salat subuh, mengucapkan niat (talafudz binniyat) sebelum salat dll.Jawaban Anwar Musaddad bagi masalah ini, yaitu “jangan dipermasalahkan qunut atau mengucapkan niatnya. Permasalahkan saja orang yang kagak salatnya.
6). Pada pengajian khusus serta terbatas, Anwar Musaddad sering membahas kegunaan (kaifiat) ayat-ayat Quran, yang dikaitkan demi permasalahan manusia sehari-hari. Seperti pemenuhan kebutuhan hidup, utang piutang dll.Dalam literatur Islam memang banyak kitab yang khusus membahas hal itu, walaupun timbul pro-kontra.Misalnya, kitab “Syamsul Ma’ariful Kubro” serta “Khozinatul Asror” karya Syekh Ali Al Buni (622 Hijrah) . Isi kitab tersebut banyak diamalkan khasiatnya, berupa do’a, wirid, hizib, isim dll, yang menggunakan ayat-ayat Quran. Ulama “moderen” seperti Syekh Abdullah bin Baz (Saudi Arabia), menganggap isi kitab semacam karya Al Buni, mengandung kesesatan. Mungkin jika dibaca serta diamalkan begitu saja oleh orang awam. Namun kagak alokasi ulama sekelas Anwar Musaddad. Pada suatu kesempatan (1989), Anwar Musaddad membahas kaifiat S.Al Balad (surah No.90). Bahwa jika surat itu, dibaca tiga kali sesudah salat sunat fajar (subuh), sebelum melaksanakan salat subuh, mau mendatangkan rejeki alokasi pembacanya. Ketika it
u, ada seorang pendengar hendak bertanya mengenai kesahihan dalilnya. Tapi tiba-tiba datang tamu. Menyerahkan uang Rp 25 juta alokasi pribadi, keluarga atau pesantren Musadad. Calon penanya bungkam menyaksikan hal itu serta Anwar Musaddad menyatakan inilah bukti keampuhan S.Al Balad alokasi urusan rejeki, yang dibacanya sebelum salat subuh tadi.
7) Kitab "Hikam" karya Ibnu Atha'illah as Syukandari. Walaupun bukan kitab standard pokok seperti kitab-kitab fiqh, “Hikam” amat digemari para ajengan. Menjadi rujukan utama intern merambah ilmu tasawuf, selain "Ihya Ulumuddin" karya Imam Gazhali. Sehingga jarang atau belum boleh dikaji oleh para santri. Sekalipun santri itu sudah senior. Sudah khatam ilmu "lugah". Yaitu kesempurnan ilmu bahasa Arab, mencakup tatabahasa (sharaf-nahwu), serta keindahan bahasa (balaghah, mencakup bayan, mani, badi, arudl, qawafi). Apalagi santri yang belum beres "dhoraba zaidun amron"nya alias belum tamat kitab "Alifyah". Kitab tatabahasa Arab intern bentuk puisi (syair) seribu bait, yang mesti hafal di luar kepala, menginjak dari awal sampai akhir, kemudian mundur dari akhir sampai awal. Konsumen kitab "Hikam" mesti sudah benar-benar seseorang yang telah berada pada "maqam" tinggi. Yang telah mampu memurnikan hati dari segala hal yang rendah, kasar, serta hina (at-takhalli minar radza-il), menghiasi hati demi segala ucapan serta tindakan terpuji (ar-tahalli bil fadla-ili) serta membersihkan hati dari segala apa selain Allah SWT (at tabarri amma siwallahi). Karena itu, mengaji kitab "Hikam" jarang sendirian. Harus ada seorang "mursyid" yang memberi bimbingan. Selain karena bahasa yang digunakan Syekh Ibnu Atha'illah tergolong sukar, bukan main "nyastra", juga banyak ungkapan-ungkapan yang perlu diulas serta dirinci oleh orang yang betul-betul telah memahaminya demi bantuan referensi kitab-kitab lain. Termasuk kitab-kitab "syarah" (komentar) bagi kitab "Hikam" sendiri, yang merupakan "matan" (bahasan pokok terbatas pada suatu masalah, menggunakan ungkapan ringkas, padat). Dalam mengaji "Hikam" para "mursyid" jarang menggunakan "matan". Melainkan kitab-kitab syarah, yang intern khazanah sastra Arab , tercatat 24 kitab syarah "Hikam". Tapi kitab syarah "Hikam" paling terkenal serta paling banyak digunakan, sepatutnya "Iqadzul Himam fi Syarhil Hikam" karya Al A'rif Billahi Ahmad bin Muhammad Ajibah al Hasaniy. Kitab-kitab syarah "Hikam" lain, seperti karya Ibnu Abbad ar Rondi, Abdullah bin Hijaziy as Syarqawi, Syekh Zarruk, dll., jarang dibacakan. Kecuali alokasi referensi pribadi para "mursyid". Pengajian kitab "Hikam" juga rata-rata berlangsung terbatas. Sekedar "bilbarkah" (mencari berkah). Biasanya diikuti oleh para alumni satu pesantren di pesantren bekasnya belajar, kepada kiyai yang dulu menjabat gurunya di situ. Atau kepada sanak keturunannya, yang sudah menjabat kiyai pula. Mencari serta menyegarkan ilmu, sekaligus menjalin hubungan silaturahmi rumpang murid demi guru, itulah "bilbarkah". Ukuran kitab "Hikam" sendiri, tergolong kecil serta tipis. Terdiri dari 294 kata-kata mutiara (hikmah) berbentuk aforisma-aforisma pendek, serta ditutup 42 munajat, yang juga berbentuk aforisma-aforisma puitik. Salah satu contoh aforisma kitab "Hikam" menjabat berikut : "Min alamati i'timadi alal 'amali nuqshanur raja-i inda wujudij jalali". Salah satu tanda bersandar pada amal, sepatutnya berkurangnya harapan (raja) pada saat berbuat kesalahan. Pembahasan aforisma perihal watak manusa memuja-muja hasil kerja diri sendiri, demi melupakan faktor pertolongan Allah SWT, mau bukan main panjang lebar. Menghabiskan belasan halaman, karena menyangkut uraian perihal rahmat karunia Allah SWT kepada mahluqNya, takdir, amal soleh, dlsb., yang mau terkorelasi demi uraian-uraian lain yang saling menunjang serta memperluas wawasan. Penulis kitab "Hikam", Syekh Athaillah as Syukandari, lahir di kota Iskandariah (Aleksandria) Mesir, th.658 H (1260 M). Sejak cukup umur menjabat murid seorang sufi asal Murcia, Andalusia (Spanyol), Syekh Abul Abbas al Mursi. Seorang "mursyid" tarekat Sadziliyah. Setelah Syekh Abbas wafat, Ibnu Athaillah melanjutkan tugasnya menjabat mursyid. Dari bahan-bahannya melatih para murid itulah, terhimpun mozaik-mozaik kearifan yang menjabat cikal-bakal kitab "Hikam". Kemashuran kitab "Hikam" melampaui batas negara serta mazhab-mazhab tarekat. Orientalis Spanyol, Miguel Asin Palcios telah menerjamahkan "Hikam" ke bahasa Spanyol. Menurut Palacios, seorang mistikus Kristen Spanyol, Saint Jean de la Croix, bukan main terpengaruh oleh "Hikam". Sehingga pendapatnya banyak yang mirip demi aforisma "Hikam". KH Anwar Musaddad menyelenggarakan pengajian khusus kitab “Hikam” th.1984-1987 di rumahnya, Jl.Ciledug, Garut. Usai pengajian, para jamaah disuguhi makan siang, yang dimasak sendiri oleh KH Anwar Musaddad sejak pagi hari.***
Usep Romli HM, seniman budayawan. Mendapat penghargaan Sastra Sunda dari Yayasan Kebudayaan Rancage 2010 alokasi bukunya “Sanggeus Umur Tunggang Gunung”, serta hadiah Rancage 2011 alokasi jasa terhadap bahasa Sunda.Mendapat “Garut Award” dari Pemkab Garut (2010), Anugrah Budaya Gubernur Jabar (2012), serta “Asrul Sani Award” serta Lesmbumi/PBNU (2014) bidang “kesetiaan menulis”..
Sumber http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,13-id,58761-lang,id-c,tokoh-t,Kepahlawanan+KH+Anwar+Musaddad-.phpx
Source Article and Picture : www.wartaislami.com
Kehidupan KH Anwar Musaddad, sejak lahir tahun 1910, sampai wafat tahun 2000, terbagi intern seputar episode yang menjadikan dirinya menjabat patriot, pendidik, juru dakwah, penulis, serta ulama panutan umat.Sejak berusia 4 tahun, menjabat yatim. Sehingga bersama adik-adiknya, dibesarkan oleh ibunya, Siti Marfu’ah, seorang wiraswasta pengusaha batik Garutan serta dodol Garut “Kuraesin”. Rajin mengaji khusus hafalan Al Quran (tahfidz) serta fiqh. Usia sekolah, masuk HIS Kristen, karena menjabat pribumi bukan keturunan pegawai negeri (ambtenar) serta bukan dari kalangan bangsawan (menak) kagak dapat masuk HIS Negeri.
Setamat HIS Kristen, melanjutkan ke MULO Kristen di Sukabumi, sambil belajar mengaji serta memperdalam ajaran Islam kepada Ustadz Sakhroni. Setamat MULO Kristen Sukabumi (1925), Musaddad melanjutkan ke AMS Kristen, Jakarta. Tapi hanya dua tahun duduk di bangku AMS Kristen Jakarta, Musaddad pulang ke Garut. Masuk pesantren Cipari, Wanaraja asuhan Kiyai Harmaen, salah seorang ulama yang terkenal “lébér wawanén” (bukan main berani) menentang pemerintah kolonial Belanda, serta memperjuangkan kemerdekaan nasional, serta aktip di “Syarikat Islam” pimpinan HOS Cokroaminoto.
Dari Cipari, Musaddad berangkat ke Jakarta, alokasi memperdalam bahasa Arab di Madrasah Al Ikhlas Jakarta.Menumpang di rumah HOS Cokroaminto, yang merupakan sahabat Kyai Harmaen. Sehingga menginjak memahami politik serta dunia tulis menulis. Musaddad membantu SK Fajar Asia, yang dipimpin Cokroaminoto, demi menerjemahkan berita-berita dari bahasa Belanda, alokasi media perjuangan tersebut.
Itulah episode awal pembentukan jiwa intelektual Anwar Musaddad, yang kemudian matang di dunia politik serta piawai menuangkan gagasan intern bentuk tulisan. Episode selanjutnya, masa belajar di Mekkah, 1930-1941. Ia memuntut ilmu kepada para ulama terkenal Mekkah masa itu. Antara lain Sayyid Alwi al Maliki, Syekh Umar Hamdan, Sayyid Amin Qubti, Syekh Janan Toyyib (Mufgi Tanah Haram asal Minang), Syekh Abdul Muqoddasi (Mufti Tanah Haram asal Solo).
Tahun 1939, pecah Perang Dunia II. Musaddad energik intern pembentukan Komite Kesengsaraan Mukimin Indonesia (Kokesin), yang mengusahakan pertolongan kepada para mukimin serta membantu pemulangan mereka ke tanah minuman. Setelah tiba di tanah minuman, tahun 1941, Musaddad aktip menjabat juru dakwah serta melatih agama pada seputar sekolah yang ada di Garut.Antara lain, Sekolah Normal Guru Islam, yang didirikan Syarikat Islam.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), menjabat Kepala Kantor Urusan Agama Priangan, serta menjabat Ketua Masyumi daerah Priangan. Setelah proklamasi kemerdekaan, diangkat menjabat Kepala Kantor Urusan Agama Priangan. Pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1949), bersama KH Yusuf Taujiri serta KH Mustofa Kamil, mengepalai pasukan Hizbullah, melawan agresi Belanda yang ingin kembali menjajah RI. Sempat ditangkap Belanda (1948) serta mendekam di penjara.Baru dibebaskan sesudah pengakuan kedaulatan (1950).
Selanjutnya, mendapat tugas dari Menteri Agama KH Fakih Usman alokasi mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta, yang menjabat cikal-bakal Institut Agama Islam Negeri (IAIN), kemudian menjabat Universitas Islam Negeri (UIN) di seluruh Indonesia. Di bidang politik, Anwar Musaddad menjabat bagian parlemen (DPR) dari Partai Nahdlatul Ulama (NU) hasil penunjukan umum tahun 1955. Menjadi bagian DPR-GR 1960-1971, serta menjabat Wakil Rais ‘Am PBNU pada Muktamar NU di Semarang (1980)*1).
Dari paparan di bagi, jelas jelas, Anwar Musaddad mengantongi andil besar intern percaturan nasional,sejak sebelum serta sesudah kemerdekaan . Sebagai ulama yang faham betul prinsip “hubbul wathon minal iman” (Cinta tanah minuman bagian dari iman), Anwar Musaddad terlibat langsung intern mewujudkan serta membela kemerdekaan tanah minuman. Keterlibatannya intern membela kehidupan para mukimin Indoenesia di Saudi Arabia, agar kagak terdampak hal-hal negatif dari Perang Dunia II (1939-1945), sejajar demi keterlibatannya intern mengepalai Hizbullah selama perang kemerdekaan menegakkan proklamasi, merupakan wujud patriotisme yang luar biasa. Pesantren Cipari, tempat Anwar Musaddad menutut ilmu sebelum berangkat ke Mekkah, sepatutnya sebuah pesantren multifungsi.Selain mendidik para santri menyelami ilmu-ilmu agama Islam, alokasi mencapai taraf”tafaquh fiddin” (ahli agama), juga menggembleng para santri alokasi mencintai tanah minuman serta siap melawan penjajah.
Pasukan kolonial Belanda, pada masa perang kemerdekaan, sering ketakutan menghadapi semangat juang para santri serta ajengan pesantren Cipari, yang menjabat basis pertahanan para pejuang kemerdekaan di kawasan timur Kabupaten Garut. Sosok serta peran Anwar Musaddad kagak dapat dipisahkan dari gerak anti kolonialisme Pesantren Cipari *2).
Di bidang pendidikan, alokasi mengggembleng sumberdaya manusia yang lengkap sempurna, selain mendirikan PTAIN/IAIN, ketika menjabat Rektor IAIN Sunan Gunung Jati, Bandung (1968-1975) Anwar Musaddad juga mendirikan Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) di Garut, Cipasung Tasikmalaya, Cilendek Bogor, Ciparay Bandung, Majalengka, dll.Tujuannya, agar jumlah mahasiswa IAIN meningkat. Tujuan lainnya, menjabat perwujudan obsesi Anwar Musaddad “mengulamakan intelektual” serta “mengintelktualkan ulama”.
Karena kenyataan di lapangan waktu itu, banyak ulama yang kagak “intelek”. Hanya memahami ilmu-ilmu agama, tanpa mengenal ilmu-ilmu umum. Begitu pula, banyak intelektual hanya menguasai ilmu-ilmu umum, tapi tak mengenal ilmu agama. Banyak jalan ditempuh Anwar Musaaddad intern mewujudkan obsesinya itu.
Selain lewat jalur formal (pembentukan IAIN, SP IAIN, dll), juga jalur non-formal. Seperti “kursus politk" yang diselenggarakan th. 1964-1965, kepada para santri serta kiyai, intern rangka pencegahan penyebaran faham komunisme serta penetrasi Partai Komunis Indonesia(PKI) di daerah-daerah, khususnya Garut*3). Lahan serta sasaran dakwah Anwar Musaddad, kagak hanya terbatas di lingkungan perkotaan, kampus atau lingkungan akademik saja.Melainkan juga kampung-kampung serta pedesaan terpencil yang belum dapat dimasuki kendaraan. Jangankan roda empat, roda dua pun masih sulit. Maka terpaksa menempuh jalan kaki. Materi dakwah yang disampaikan juga, beragam. Untuk lingkungan kota serta akademik, kelihatannya yang muluk-muluk tinggi serba ilmiah. Sedangkan alokasi di kampung-kampung, bukan main sederhana namun amat penting alokasi diketahui serta difahami masyarakat keseluruhan.Terutama intern pengetahuan ilmu fiqh serta penerapannya.*4)
Walaupun Anwar Musaddad seorang Nahdliyin, bahkan menduduki posisi puncak di kepengurusan NU tingkat pusat, namun kagak fanatik mazhab atau pendapat yang bersifat “furuiyah” (ranting masalah) yang kerap menimbulkan perbedaan faham. Anwar Musaddad selalu memungut jalan tengah. “Khoirul umur awsatuha”. Sebaik-baik perkara sepatutnya yang tengah-tengah*5) Selain materi-materi praktis yang dibutuhkan intern praktek peribadatan sehari-sehari, seperti bersuci, pada lingkungan pendengar (mustami) tertentu, kadang-kadang Anwar Musaddad menyampaikan materi mengandung unsur “sufistik” (supranatural), baik berdasarkan pengalaman sendiri, maupun mengutip referensi kitab-kitab klasik**6).
Pengajian khusus yang diselenggarakan Anwar Musaddad, seperti “kursus politik” seperti disinggung di bagi, sepatutnya pembacaan kitab “Hikam” sebulan sekali. Diikuti para kiyai dari berbagai pesantren seluruh Garut, bahkan Bandung,Tasikmalaya serta Sumedang. Keluasan pengetahuan Anwar Musaddad yang bukan main holistik, serta komprehensif integral,membuat para pendengar terpana mendengar pembahasan isi kitab klasik yang sulit difahami itu.*7).
Akhirul Kalam Menyaksikan serta merasakan jejak langkah KH Anwar Musaddad, sebagian besar orang sudah menganggap Anwar Musaddad menjabat “pahlawan”. Minimal pahlawan alokasi lingkungan keluarga, warga Nahdliyin serta civitas akademika IAIN serta pesantren-pesantren yang para kiyainya berguru kepada Anwar Musaddad. Sebuah pengakuan yang cukup kuat, alokasi menjadikan Anwar Musaddad pahlawan legal formal, seperti umumnya para pahlawan nasional yang diakui pemerintah.***** (Usep Romli HM)
Catatan :
1.Riwayat hidup Anwar Musaddad, dapat dilihat rumpang lain intern buku “Ensiklopedi Sunda, Alam, Manusia serta Budaya, Termasuk Budaya Cirebon serta Betawi” (Pustaka Jaya,2000) hal. 56.
2.Pesantren Cipari, merupakan salah satu pesantren tertua serta terkenal di Kab.Garut,di samping Keresek (Cibatu), Kudang(Limbangan), Al Hikmah (Tarogong). Sebuah “ceritera rakyat” (folklore) yang dihimpun Panitia Tahun Buku Internasional Indonesia 1972, UNESCO, mengisahkan patriotisme para santri serta kiyai Cipari. Disebutkan, th.1948, pasukan Belanda dari Cibatu, mau menyerang Cipari. Karena berita mendadak, serta hari Jum’at pula, penduduk serta para pejuang kagak sempat menghindar.Mereka terkepung oleh pasukan bersenjata lengkap. KH Anwar Musaddad serta KH Yusuf Taujiri, menyuruh pria-pria masuk masjid alokasi bersiap melaksanakan salat Jum’at. Sebelum tiba waktu adzan, KH Anwar Musaddad mengepalai pembacaan do’a “Hizib Bahri”. Setelah adzan, KH Yusuf Taujiri berkhotbah. Selama khotbah kagak ada seorangpun jamaah yang tertidur seperti biasanya. Usai salat Jum’at, seorang penduduk melaporkan, tentara Belanda yang mengepung pesantren semua tertidur lelap. Bergelimpangan di pematang, jalan setapak, kebun, dsb. Mereka pertama kali terbangun sesudah hari menjelang senja. Pesantren Cipari telah sepi ditinggalkan penghuninya mengungsi ke tempat hening. Kisah serupa dapat ditemukan intern buku “Berangkat dari Pesantren” karya KH Saifuddin Zuhri (1986) hal.271. Terjadi di Ambarawa.Tentara Inggris serta NICA (Belanda), yang sedang mengepung markas pejuang, tiba-tiba mengundurkan diri sebelum subuh tiba. Pada waktu, para pejuang yang dipimpin KH Syaifuddin Zuhri, KH Dahlar, dll., semalaman membaca wirid “Hizbun Nashr “. Tampaknya pembacaan wirid atau hizib ini sudah menjabat tradisi di kalangan para ulama NU.
3). “Kursus Politik” yaitu pelajaran politik, ilmu serta praktek, dari seorang atau seputar orang politikus kepada bagian partainya.KH Musaddad menyelenggarakan “kursus politik” kepada para ajengan pesantren yang berafiliasi kepada NU, bagian ormas NU (GP Ansor,PMII, IPNU).Tujuannya sepatutnya, agar warga NU waspada menghadapi gerakan PKI yang menginjak masuk ke desa-desa di Kab.Garut sejak th.1960. Para peserta kursus diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat,warga NU khususnya, umat Islam umumnya, karena PKI menggunakan sayap organisasi “Ikhwanul Muslimin” alokasi mengelabui umat Islam agar mau masuk PKI. “IM” PKI diketuai oleh KH Anwar Sanusi. Anak KH Anwar, yaitu Amir, pada waktu itu menjabat salah seorang bagian CC (pimpinan pusat) PKI yang diketuai DN Aidit. “Kursus Politik” di Garut, sebenarnya bukan hal pertama kali.Tahun 1930-an, Syarikat Islam sering menyelenggarakan “kursus politik” di desa serta kecamatan. Dinamakan “verhadering” (diucapkan oleh masyarakat menjabat “pahadreng”. Perdebatan. Tokoh-tokoh SI pusat,seperti HOS Cokroaminoto, Agus Salim, Abikusno, sering terjun ke Garut. Pada waktu bersamaan demi “kursus politik” Islam Anwar Musaddad, di Garut terselenggara pula “kursus politik” alokasi kaum nasionalis (PNI) di rumah Burhan Mustapa, Jl.Bank 14. BM terkenal menjabat tokoh PNI.Tapi salah seorang putranya., Awan Karmawan, aktip di Golongan Karya (Golkar). Sejak 1971 menjabat bagian DPR RI dari Golkar serta bertahun-tahun menjabat Ketua DPP Golkar sampai masa reformasi th.1998. 4).Hal-hal “ringan” tapi “berat” menurut ukuran dosa (kabair) sering dibahas intern dakwah Anwar Musaddad. Misalnya, menganggap remeh minuman kencing. Sehingga sehabis kencing kagak bersuci. Padahal minuman kencing terhitung najis.
5). Masalah “furuiyah” yang kerap menjabat sumbner keributan di masyarakat awam, rumpang lain melalukan qunut pada salat subuh, mengucapkan niat (talafudz binniyat) sebelum salat dll.Jawaban Anwar Musaddad bagi masalah ini, yaitu “jangan dipermasalahkan qunut atau mengucapkan niatnya. Permasalahkan saja orang yang kagak salatnya.
6). Pada pengajian khusus serta terbatas, Anwar Musaddad sering membahas kegunaan (kaifiat) ayat-ayat Quran, yang dikaitkan demi permasalahan manusia sehari-hari. Seperti pemenuhan kebutuhan hidup, utang piutang dll.Dalam literatur Islam memang banyak kitab yang khusus membahas hal itu, walaupun timbul pro-kontra.Misalnya, kitab “Syamsul Ma’ariful Kubro” serta “Khozinatul Asror” karya Syekh Ali Al Buni (622 Hijrah) . Isi kitab tersebut banyak diamalkan khasiatnya, berupa do’a, wirid, hizib, isim dll, yang menggunakan ayat-ayat Quran. Ulama “moderen” seperti Syekh Abdullah bin Baz (Saudi Arabia), menganggap isi kitab semacam karya Al Buni, mengandung kesesatan. Mungkin jika dibaca serta diamalkan begitu saja oleh orang awam. Namun kagak alokasi ulama sekelas Anwar Musaddad. Pada suatu kesempatan (1989), Anwar Musaddad membahas kaifiat S.Al Balad (surah No.90). Bahwa jika surat itu, dibaca tiga kali sesudah salat sunat fajar (subuh), sebelum melaksanakan salat subuh, mau mendatangkan rejeki alokasi pembacanya. Ketika it
u, ada seorang pendengar hendak bertanya mengenai kesahihan dalilnya. Tapi tiba-tiba datang tamu. Menyerahkan uang Rp 25 juta alokasi pribadi, keluarga atau pesantren Musadad. Calon penanya bungkam menyaksikan hal itu serta Anwar Musaddad menyatakan inilah bukti keampuhan S.Al Balad alokasi urusan rejeki, yang dibacanya sebelum salat subuh tadi.
7) Kitab "Hikam" karya Ibnu Atha'illah as Syukandari. Walaupun bukan kitab standard pokok seperti kitab-kitab fiqh, “Hikam” amat digemari para ajengan. Menjadi rujukan utama intern merambah ilmu tasawuf, selain "Ihya Ulumuddin" karya Imam Gazhali. Sehingga jarang atau belum boleh dikaji oleh para santri. Sekalipun santri itu sudah senior. Sudah khatam ilmu "lugah". Yaitu kesempurnan ilmu bahasa Arab, mencakup tatabahasa (sharaf-nahwu), serta keindahan bahasa (balaghah, mencakup bayan, mani, badi, arudl, qawafi). Apalagi santri yang belum beres "dhoraba zaidun amron"nya alias belum tamat kitab "Alifyah". Kitab tatabahasa Arab intern bentuk puisi (syair) seribu bait, yang mesti hafal di luar kepala, menginjak dari awal sampai akhir, kemudian mundur dari akhir sampai awal. Konsumen kitab "Hikam" mesti sudah benar-benar seseorang yang telah berada pada "maqam" tinggi. Yang telah mampu memurnikan hati dari segala hal yang rendah, kasar, serta hina (at-takhalli minar radza-il), menghiasi hati demi segala ucapan serta tindakan terpuji (ar-tahalli bil fadla-ili) serta membersihkan hati dari segala apa selain Allah SWT (at tabarri amma siwallahi). Karena itu, mengaji kitab "Hikam" jarang sendirian. Harus ada seorang "mursyid" yang memberi bimbingan. Selain karena bahasa yang digunakan Syekh Ibnu Atha'illah tergolong sukar, bukan main "nyastra", juga banyak ungkapan-ungkapan yang perlu diulas serta dirinci oleh orang yang betul-betul telah memahaminya demi bantuan referensi kitab-kitab lain. Termasuk kitab-kitab "syarah" (komentar) bagi kitab "Hikam" sendiri, yang merupakan "matan" (bahasan pokok terbatas pada suatu masalah, menggunakan ungkapan ringkas, padat). Dalam mengaji "Hikam" para "mursyid" jarang menggunakan "matan". Melainkan kitab-kitab syarah, yang intern khazanah sastra Arab , tercatat 24 kitab syarah "Hikam". Tapi kitab syarah "Hikam" paling terkenal serta paling banyak digunakan, sepatutnya "Iqadzul Himam fi Syarhil Hikam" karya Al A'rif Billahi Ahmad bin Muhammad Ajibah al Hasaniy. Kitab-kitab syarah "Hikam" lain, seperti karya Ibnu Abbad ar Rondi, Abdullah bin Hijaziy as Syarqawi, Syekh Zarruk, dll., jarang dibacakan. Kecuali alokasi referensi pribadi para "mursyid". Pengajian kitab "Hikam" juga rata-rata berlangsung terbatas. Sekedar "bilbarkah" (mencari berkah). Biasanya diikuti oleh para alumni satu pesantren di pesantren bekasnya belajar, kepada kiyai yang dulu menjabat gurunya di situ. Atau kepada sanak keturunannya, yang sudah menjabat kiyai pula. Mencari serta menyegarkan ilmu, sekaligus menjalin hubungan silaturahmi rumpang murid demi guru, itulah "bilbarkah". Ukuran kitab "Hikam" sendiri, tergolong kecil serta tipis. Terdiri dari 294 kata-kata mutiara (hikmah) berbentuk aforisma-aforisma pendek, serta ditutup 42 munajat, yang juga berbentuk aforisma-aforisma puitik. Salah satu contoh aforisma kitab "Hikam" menjabat berikut : "Min alamati i'timadi alal 'amali nuqshanur raja-i inda wujudij jalali". Salah satu tanda bersandar pada amal, sepatutnya berkurangnya harapan (raja) pada saat berbuat kesalahan. Pembahasan aforisma perihal watak manusa memuja-muja hasil kerja diri sendiri, demi melupakan faktor pertolongan Allah SWT, mau bukan main panjang lebar. Menghabiskan belasan halaman, karena menyangkut uraian perihal rahmat karunia Allah SWT kepada mahluqNya, takdir, amal soleh, dlsb., yang mau terkorelasi demi uraian-uraian lain yang saling menunjang serta memperluas wawasan. Penulis kitab "Hikam", Syekh Athaillah as Syukandari, lahir di kota Iskandariah (Aleksandria) Mesir, th.658 H (1260 M). Sejak cukup umur menjabat murid seorang sufi asal Murcia, Andalusia (Spanyol), Syekh Abul Abbas al Mursi. Seorang "mursyid" tarekat Sadziliyah. Setelah Syekh Abbas wafat, Ibnu Athaillah melanjutkan tugasnya menjabat mursyid. Dari bahan-bahannya melatih para murid itulah, terhimpun mozaik-mozaik kearifan yang menjabat cikal-bakal kitab "Hikam". Kemashuran kitab "Hikam" melampaui batas negara serta mazhab-mazhab tarekat. Orientalis Spanyol, Miguel Asin Palcios telah menerjamahkan "Hikam" ke bahasa Spanyol. Menurut Palacios, seorang mistikus Kristen Spanyol, Saint Jean de la Croix, bukan main terpengaruh oleh "Hikam". Sehingga pendapatnya banyak yang mirip demi aforisma "Hikam". KH Anwar Musaddad menyelenggarakan pengajian khusus kitab “Hikam” th.1984-1987 di rumahnya, Jl.Ciledug, Garut. Usai pengajian, para jamaah disuguhi makan siang, yang dimasak sendiri oleh KH Anwar Musaddad sejak pagi hari.***
Usep Romli HM, seniman budayawan. Mendapat penghargaan Sastra Sunda dari Yayasan Kebudayaan Rancage 2010 alokasi bukunya “Sanggeus Umur Tunggang Gunung”, serta hadiah Rancage 2011 alokasi jasa terhadap bahasa Sunda.Mendapat “Garut Award” dari Pemkab Garut (2010), Anugrah Budaya Gubernur Jabar (2012), serta “Asrul Sani Award” serta Lesmbumi/PBNU (2014) bidang “kesetiaan menulis”..
Sumber http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,13-id,58761-lang,id-c,tokoh-t,Kepahlawanan+KH+Anwar+Musaddad-.phpx
Source Article and Picture : www.wartaislami.com
Komentar
Posting Komentar